Senin, Oktober 3, 2022

Harga Komoditas Naik, Indonesia Masuki Periode Supercycle

SUARAPENA.COM – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut dalam beberapa waktu kedepan Indonesia akan memasuki periode supercycle dalam perekonomian dunia.

“Indonesia akan memasuki periode supercycle, dimana harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan terutama komoditas dasar yang diakibatkan pertumbuhan ekonomi baru dari permintaan yang terjadi di masa pandemi dan setelah pandemi,” kata Mendag dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/4/2021).

Lutfi menjelaskan, beberapa komoditas  yang akan naik dalam periode supercycle itu diantaranya ialah minyak  bumi, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), bijih besi, dan tembaga.

Baca juga:  Indonesia Siap Jembatani Komunikasi Rusia - Ukraina

Menurut dia, Ini bukan kali pertama Indonesia menghadapi periode supercycle. Karena sebelumnya dalam beberapa tahun lalu, Indonesia juga telah mengalaminya.

“Ya, kita sih berharap periode supercycle kali ini akan membawa keberuntungan dan dampak positif bagi perekonomian Indonesia,” ungkapnya.

Selain supercycle, kata Lutfi, ada beberapa hal lain yang juga akan menjadi tren perdagangan Indonesia kedepan.

Tren pertama adalah munculnya investasi yang terjadi karena adanya pasar yang besar.

Baca juga:  Kawasan Ekonomi Khusus di Cikarang Segera Dikaji Pemerintah Pusat

Hal itu dapat dilihat melalui sektor otomotif, dimana pada sektor tersebut banyak muncul investasi yang disebabkan besarnya pasar otomotif di Indonesia.

Tren kedua yaitu komoditas dasar Indonesia memberikan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang baik.

Hal ini dapat dilihat dari produksi stainless steel Indonesia, dimana Indonesia merupakan produsen kedua terbesar di dunia.

Tren ketiga ialah Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Salah satu contohnya yaitu komoditas perhiasan yang merupakan komoditas unggulan ekspor nonmigas Indonesia.

Baca juga:  Pantau Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga, Kemendag Buka Hotline

“Dengan sumber daya alam dan manusia yang saling mendukung, Indonesia mampu menghasilkan produk perhiasan berdaya saing di pasar dunia,” paparnya.

Untuk kedepan, Lutfi berharap dengan berbagai kelebihan yang dimiliki nantinya akan banyak negara yang menjadi mitra khusus Indonesia.  Terutama Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok. 

“Negara-negara tersebut tak hanya sekedar  menjadi mitra dagang, namun juga menjadi sumber investasi perekonomian nasional dengan produk-produk yang menjadi pilar utama ekspor nonmigas Indonesia,” pungkasnya. (Bo)

Latest Articles