Scroll untuk baca artikel

Ekbis

Bangkitnya UMKM Buat BRI Optimis Hadapi Tantangan Ekonomi di 2022

×

Bangkitnya UMKM Buat BRI Optimis Hadapi Tantangan Ekonomi di 2022

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso

SUARAPENA.COM – Kebangkitan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) membuat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk optimis menghadapi berbagai tantangan ekonomi di tahun ini.

Direktur Utama BRI Sunarso menyatakan, pelaku UMKM merasa optimistis terhadap langkah-langkah yang ditempuh Pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Indeks kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah masih sangat baik. Hal itu dilihat dari riset Indeks Bisnis UMKM BRI yang mencapai level optimistis dengan skor melebihi 100 pada kuartal IV-2021.

“Itulah yang menjadikan BRI optimis dalam menghadapi ekonomi 2022,” ujar Sunarso di Jakarta, Rabu (23/2/2022).

Sunarso pun memaparkan, dari ketiga Indeks yang menjadi acuan itu diantaranya ialah indeks bisnis UMKM secara mikro yang mengukur volume produksi, total nilai penjualan, rata-rata harga jual, volume pesanan, volume pemesanan barang input, volume persediaan barang jadi, rata-rata jumlah karyawan, hingga realisasi investasi mendapat hasil yang memuaskan.

Lalu Kedua, ia menyebutIndeks sentimen bisnis UMKM yang menggali skor terhadap kondisi ekonomi makro.

Berita Terkait:  Teladani Hoegeng, Kapolri Buka Ruang Kritik Demi Perbaikan

Dari hasil indeks tersebut, pelaku UMKM menyatakan kondisi perekonomian nasional hingga kondisi usaha telah mengalami perbaikan.

Terakhir, penilaian pelaku UMKM terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi.

“Ternyata data ketiga indeks tersebut menunjukkan optimisme, Artinya sangat percaya terhadap kemampuan pemerintah mengelola berbagai tantangan perekonomian nasional,” kata Sunarso.

Dengan kokohnya sektor UMKM, Sunarso yakin BRI dapat melalui tantangan ekonomi pada tahun ini dengan kinerja mengesankan.

Sunarso juga menceritakan, Indonesia digempur tantangan ekonomi yang datang dari luar dan dalam negeri.

Di luar negeri, Sunarso menyebut arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dapat memiliki implikasi bagi perekonomian di Indonesia.

Pasalnya, keputusan Bank Sentral AS, The Fed, dalam melakukan tapering off serta potensi kenaikan suku bunga acuannya bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan dan arus investasi.

Hal itu bisa terjadi sebagai efek dari gejolak pergerakan kurs dollar AS.

Berita Terkait:  Kejari Cikarang Musnahkan Barang Bukti 339 Perkara Tahun 2021

Arah kebijakan moneter AS itu juga, kata dia, dapat memantik Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter tertinggi di dalam negeri untuk meningkatkan BI-rate.

Langkah BI dalam mengerek suku bunga acuannya bisa memberikan tekanan bagi bisnis perbankan.

Dua tantangan ini, lanjut Sunarso, telah dipetakan dengan penuh pertimbangan oleh perseroan.

Membaiknya demand side menjadikan BRI optimistis tetap optimal melakukan ekspansi kredit.

“Situasi yang sebenarnya bisa saya katakan masih optimistis bahwa kami akan bisa tumbuh secara sustain,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sunarso menargetkan BRI pertumbuhan kreditnya di kisaran 9 persen sampai 11 persen year on year (yoy) di tahun ini.

Dari segi manajemen risiko, Sunarso yakin BRI bisa menjaga rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di level 2,8 persen sampai 3 persen.

Profitabilitas coba didongkrak dengan mematok target Net Interest Margin (NIM) 7,6 persen sampai 7,8 persen, dibarengi dengan efisiensi cost of creditdi kisaran 2,8 persen hingga 3 persen. (Bo/Hms)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca