Scroll untuk baca artikel
KulturalSuara Jateng

Kopi Arab, Warisan Budaya dan Kebersamaan di Bulan Ramadan

×

Kopi Arab, Warisan Budaya dan Kebersamaan di Bulan Ramadan

Sebarkan artikel ini

Suarapena.com, SEMARANG – Di tengah kehangatan bulan Ramadan, Masjid Layur di Kota Semarang menjadi saksi bisu tradisi unik yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Kopi Arab, minuman legendaris yang dibawa oleh pedagang Yaman, kini menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang dinikmati oleh jemaah dari berbagai etnis.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Setiap sore, serambi masjid berubah menjadi ruang persaudaraan. Gelas-gelas kopi ditata rapi, menunggu untuk diisi dengan racikan kopi hangat yang aromanya menggugah selera.

Tak hanya sebagai takjil, kopi Arab ini juga menjadi teman bagi kurma, kue, dan makanan berat lainnya yang disajikan secara gratis.

Berita Terkait:  Indonesia Surga Kopi Dunia, Industrinya Tumbuh 250 Persen

Ketika azan magrib berkumandang, jemaah yang telah lama berada di dalam masjid berhamburan keluar, duduk rapi menunggu waktu berbuka.

Doa dan syahadat mengalun, mengisi waktu sebelum mereka meneguk kehangatan kopi yang telah lama menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa di masjid ini.

Hamid, salah seorang tokoh masyarakat, mengingatkan bahwa tradisi ini telah ada sejak masjid diresmikan pada tahun 1802.

“Ini adalah awal mula komunitas jemaah dari Arab di Masjid Layur,” ujarnya.

Berita Terkait:  Tradisi Ramadan yang Hangat, Bubur Samin Banjar Menyatukan Komunitas di Surakarta

Kopi ini tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar, tetapi juga oleh etnis Arab, Melayu, dan lainnya yang datang untuk salat dan berbuka bersama.

Menurut Hamid, kopi disediakan tidak hanya karena rasanya yang nikmat, tetapi juga karena manfaatnya bagi tubuh, terutama dalam menjaga stamina dan kesehatan di tengah cuaca yang tak menentu.

Bahan-bahan seperti serai, kayu manis, kapulaga, jinten, pala, dan gula, menjadi rahasia di balik keistimewaan rasa dan aroma kopi ini.

Ahmad Soleh, seorang warga penikmat kopi dan jemaah Masjid Layur, mengungkapkan kecintaannya pada kopi Arab.

Berita Terkait:  Komisi VII: Kemenperin Harus Data Produk Kopi Nasional

“Rasanya enak banget, beda dengan kopi lainnya,” katanya.

Selama Ramadan, ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati kopi ini dan mengikuti salat berjemaah di masjid.

Tradisi minum kopi Arab di Masjid Layur bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang kebersamaan dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Di bulan yang penuh berkah ini, kopi Arab menjadi lebih dari sekadar minuman; ia adalah pengikat komunitas, simbol persaudaraan, dan bagian dari kekayaan budaya Jawa Tengah. (sp/ak/ul)