Scroll untuk baca artikel
HeadlinePena Kita

Nafsu Kekuasaan dan Hulu Balang

×

Nafsu Kekuasaan dan Hulu Balang

Sebarkan artikel ini
Nafsu Kekuasaan dan Hulubalang
Ilustrasi Nafsu Kekuasaan dan Hulubalang.

Oleh Imam Trikarsohadi,
Jurnalis, Pemerhati Politik dan Administrasi Negara

DEMOKRASI dengan perilaku politik di dalamnya, termasuk Pilkada, Pileg dan Pilpres, apa boleh buat, dalam perkembangannya saat ini telah menjadi industri kekuasaan. Karena sudah jadi industri, maka tentu ada produksi didalamnya.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Sebagai sebuah produksi, maka perilaku politik di Indonesia, mensyaratkan setidaknya empat hal: modal, mesin politik, manusia dan metode.  Agar “barang” politik itu laku dijual, diperlukan juga aneka macam jenis iklan dan publikasi (pencitraan).

Berita Terkait:  Metode Que-WaH Dalam Upaya Menumbuhkan Inovasi Siswa Berwirausaha

Ada yang menggunakan cara evolusi yang menempuh tahap demi tahap, waktu demi waktu, dan upaya demi upaya agar dikenal warga dan disukai. Ada pula yang menggunakan cara-cara instans; seperti mencari pasangan yang sudah popular (kalangan artis misalnya), ada pula yang menggunakan pola populerisasi—dalam waku yang singat—membangun pencitraan pencitraan diri agar mampu menaruh simpati publik. Cara instan inilah yang belakangan hari banyak digunakan, sehingga menyedot  biaya, capital, dan modal.

Berita Terkait:  Yang Menghina Itu Siapa, Rocky Gerung Atau Presiden Jokowi?

Ambil contoh dari Pilkada serentak 2017 yang baru saja bergulir, maka dapat kita tabulasi bahwa mayoritas paslon kepala daerah mennggunakan pola populerisasi dan/ atau menggandeng pasangan dengan asumsi dasar sudah populer, meski tak paham politik.