Suarapena.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah merampungkan penataan kawasan Pantai Malalayang dan Ecotourism Village Bunaken, Provinsi Sulawesi Utara.
Hal tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan destinasi super prioritas Manado-Bitung-Likupang.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, penataan dua kawasan wisata ini bertujuan untuk mendukung pengembangan destinasi pariwisata yang berstandar internasional dan berwawasan lingkungan di Kota Manado.
“Penataan dua kawasan ini untuk memberikan pelayanan yang baik bagi para pengunjung yang datang,” ujar Menteri Basuki dalam keterangan tertulis, Senin (2/1/2023).
Seperti diketahui, kedua penataan kawasan ini dilaksanakan dalam satu paket oleh kontraktor PT Nindya Karya.
Untuk penataan kawasan Pantai Malalayang di atas lahan seluas 18.500 m2 menghabiskan anggaran APBN Tahun Jamak 2020-2022 sebesar Rp65,48 miliar.
Ruang lingkup pembangunannya meliputi Pedestrian (Public Beach Promenade) sepanjang 1,2 km untuk mempercantik wajah Kota Manado yang menghadap ke pantai.
Selain itu terdapat Menara Pandang, Bangunan Warung Apung, Panggung Budaya, Warung Minum, Pier Salib, Dermaga Jetski serta Jalan Penghubung.
Pengembangan desain landmark eksisting pada Tugu Bobocha dan Pier Salib juga dilakukan untuk mendukung keindahan promenade dengan mengadaptasi kearifan lokal dari bentuk ikan raja laut.
Area pedestrian yang sebelumya minim pencahayaan, kini tampak cantik dengan penataan cahaya yang apik.
Selanjutnya untuk penataan Bunaken, juga telah dilaksanakan sejak tahun 2020 hingga tahun 2022 dengan nilai kontrak Rp28,78 miliar. Pembangunannya dilaksanakan di atas lahan seluas 19.000 m2.
Pulau Bunaken memiliki peran strategis dalam aktifitas wisata sebagai entrance bagi para wisatawan yang akan menuju kawasan perairan/pulau-pulau.
Oleh karenanya, menjadi penting untuk melakukan penataan di Pulau Bunaken untuk menciptakan kawasan yang representatif dan memiliki kualitas lingkungan dan pelayanan yang baik bagi para wisatawan.
Penataan Kawasan Bunaken ini meliputi pembangunan Dermaga baru, Jalan Lingkungan, Gerbang Penanda, Street Furniture, serta Panggung Budaya yang dapat digunakan masyarakat setempat untuk melakukan berbagai kegiatan.
Pembangunannya sendiri mengusung konsep Ecotourism Village agar nuansa perdesaan tetap terjaga, salah satunya dengan memberdayakan rumah warga setempat menjadi homestay dengan mempertahankan arsitektur khas Minahasa.
Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Utara Kementerian PUPR Komang Raka Maharthana mengatakan, pembangunan di kawasan pantai Bunaken dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian.
Semuanya dilakukan dengan mempertimbangkan petunjuk lapangan dari Badan Perlindungan Taman Nasional Bunaken. “Ini semua demi meminimalkan kerusakan terumbu karang dan biota di kawasan konservasi,” kata Komang.
Dirinya pun menyebut bahwa tujuan membenahi Pantai Malalayang dan Bunaken artinya membenahi bentang alam dan perdesaan yang masih alami namun tetap menjaga adat budaya warisan leluhur.
Sehingga, wisatawan yang datang akan memperoleh kesan dan pengalaman yang lengkap yang tak sebatas keindahan alam tapi juga seni dan budaya yang khas Minahasa. (Sp/Pr)










