Suarapena.com, BANDUNG – Mobilitas masyarakat menuju Kota Bandung tetap tinggi sepanjang semester pertama 2026. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung mencatat sekitar 12 juta perjalanan atau travelers hingga semester I 2026.
Angka tersebut menunjukkan tingginya pergerakan orang menuju Bandung. Tidak seluruhnya datang untuk berwisata, tetapi aktivitas mereka dinilai tetap memberikan kontribusi terhadap perekonomian kota.
Kepala Disbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan, angka 12 juta tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah perjalanan atau travelers.
“Kalau jumlah perjalanan sekarang itu sudah mainnya ke travelers, ke jumlah perjalanan. Itu sudah sampai angka 12 jutaan,” kata Adi, Senin (31/8/2026).
Adi menjelaskan, konsep travelers memiliki cakupan lebih luas dibandingkan definisi wisatawan yang digunakan dalam penghitungan teknokratik pemerintah.
Pemkot Bandung menargetkan sekitar 9,6 juta perjalanan wisatawan pada 2026. Namun, angka tersebut secara khusus berkaitan dengan kunjungan wisatawan ke objek-objek wisata.
Sementara itu, travelers mencakup seluruh orang yang melakukan perjalanan ke Bandung dengan berbagai tujuan.
“Travelers itu mereka yang bepergian. Bisa perjalanan bisnis, bisa perjalanan mungkin ada dinas dari kantor-kantor pemerintahan. Bisa juga orang tua yang sedang mencari anaknya untuk sekolah. Pokoknya berbagai kemungkinan dia melakukan perjalanan,” ujar Adi.
Dengan demikian, angka 12 juta travelers tidak dapat disamakan secara langsung dengan jumlah wisatawan. Meski begitu, data tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya mobilitas masyarakat yang masuk ke Kota Bandung.
Tingginya jumlah perjalanan menuju Bandung juga tercermin dari data 2025.
Menurut Adi, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 25 juta perjalanan menuju Bandung sepanjang tahun lalu.
Jika tren semester pertama 2026 berlanjut, jumlah perjalanan tahun ini diperkirakan kembali berada di kisaran 25 juta travelers.
“Tahun 2025 saja dari BPS menyebutkan 25 jutaan. Kalau 2026 selama satu semester 12 jutaan. Jadi memang kelihatannya stabil di angka 25 juta travelers,” katanya.
Disbudpar menilai angka tersebut penting karena tingginya mobilitas tidak hanya berkaitan dengan sektor pariwisata, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat.
Orang yang datang ke Bandung untuk bekerja, perjalanan dinas, bisnis, pendidikan, maupun keperluan keluarga tetap memiliki potensi melakukan transaksi selama berada di kota tersebut.
“Mereka tetap spending money di Bandung. Kemudian mungkin juga ada yang menginap di hotel di Bandung dan lain-lain,” kata Adi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, Disbudpar Kota Bandung akan melakukan konsolidasi data perjalanan dari berbagai sumber.
Data tersebut antara lain berasal dari penumpang kereta api, kendaraan yang melewati pintu tol, hingga perjalanan menggunakan bus.
Menurut Adi, data berbasis travelers memberikan perspektif berbeda mengenai tingkat mobilitas masyarakat dibandingkan data kunjungan wisatawan ke destinasi.
“Angka yang dihitung dari perjalanan yang klasik seperti kereta api, lewat pintu tol, pakai bus, itu kita targetnya di angka hampir 10 jutaan tahun ini. Kita wisatawan. Tapi ternyata kalau travelers jauh lebih banyak,” ujarnya.
Selain mobilitas melalui jalur darat dan kereta api, kembali beroperasinya penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung diharapkan turut meningkatkan jumlah perjalanan menuju Kota Bandung.
Disbudpar terutama melihat peluang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman.
Adi mengatakan penerbangan Garuda Indonesia yang kembali beroperasi sejak 14 Agustus 2026 akan menjadi salah satu faktor yang perlu dihitung dalam melihat perkembangan kunjungan wisatawan ke Bandung.
“Kemarin inaugurasi pertama kali Garuda itu 14 Agustus. Kita mungkin nanti di awal September konsolidasi, kita coba lihat hitung-hitungannya seperti apa,” katanya.
Menurut dia, dampak paling signifikan dari kembali aktifnya penerbangan di Bandara Husein kemungkinan terlihat pada jumlah kunjungan wisman.
“Yang sangat akan berubah itu adalah jumlah kunjungan wisman. Mungkin ini akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya,” ujar Adi.
Dengan jumlah perjalanan yang telah mencapai 12 juta hanya dalam enam bulan, Bandung masih menjadi salah satu tujuan dengan tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi. Tantangannya kini adalah memastikan besarnya arus perjalanan tersebut semakin banyak dikonversi menjadi aktivitas ekonomi dan kunjungan wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Bandung. (sp/rob)







