Suarapena.com, TANGERANG – Angka kasus pelecehan terhadap anak terus meningkat dan menjadi alarm bahaya yang tak boleh diabaikan. Di tengah situasi ini, para ahli menegaskan bahwa benteng pertahanan paling awal dan paling kuat bagi anak bukanlah tembok sekolah atau lembaga negara—melainkan rumah dan keluarga itu sendiri.
Psikolog dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Tangerang, Glori Telis Amanta, menyuarakan pentingnya keterlibatan orang tua dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Menurutnya, pendidikan seksualitas bukan hal tabu, melainkan bentuk investasi jangka panjang demi masa depan anak yang aman dan sehat.
“Pencegahan pelecehan pada anak bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga, tapi berawal dari lingkungan terdekat—keluarga. Orang tua adalah garda terdepan dalam perlindungan anak,” tegas Glori, Sabtu (30/8/2025).
Ia menambahkan, anak-anak yang dibekali pemahaman tentang batasan tubuh sejak usia dini, akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berkata “tidak”, dan berani melapor jika merasa terancam.
“Mari jadikan rumah sebagai tempat pertama dan utama bagi anak untuk merasa aman, belajar, dan dilindungi,” lanjutnya.
Untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, berikut empat strategi yang direkomendasikan oleh Glori dan para pakar:
1.Edukasi Seksual Sejak Dini dengan Bahasa Ilmiah
Anak-anak perlu dikenalkan pada konsep privasi tubuh dengan istilah yang tepat. Hindari penggunaan istilah lucu atau pengganti. Edukasi dengan bahasa ilmiah membuat anak memahami area pribadi tubuhnya secara jelas dan serius, sekaligus menghindari rasa malu atau kebingungan.
2.Tanamkan Rasa Percaya Diri dan Sikap Asertif
Ajari anak untuk tegas menyatakan ketidaknyamanan mereka, termasuk berani berkata “tidak” saat menghadapi sentuhan atau ajakan yang mencurigakan. Anak yang tahu bahwa dirinya berharga akan lebih mudah menjaga batasan dirinya dan melindungi diri dari bahaya.
3.Bangun Hubungan yang Hangat dan Terbuka
Anak yang merasa dicintai dan didengar akan lebih terbuka dalam berbagi cerita. Komunikasi hangat memungkinkan orang tua mendeteksi tanda-tanda kekerasan lebih awal, bahkan sebelum kejadian memburuk.
4.Lakukan Pengawasan Digital dengan Cerdas
Di era digital, predator tidak hanya mengintai secara fisik, tetapi juga melalui layar gadget. Orang tua wajib tahu aktivitas online anak, aplikasi yang digunakan, hingga siapa yang mereka ajak bicara. Edukasi tentang privasi digital dan potensi bahaya di internet menjadi sangat penting dalam pencegahan pelecehan online.
Dengan kepekaan, komunikasi terbuka, dan edukasi yang tepat, setiap orang tua memiliki kekuatan untuk menciptakan zona aman bagi anak-anak mereka. Karena perlindungan terbaik tidak selalu berasal dari luar, tapi dari pelukan keluarga yang penuh kasih. (sp/pr)










