Suarapena.com, BANDUNG – Saat sebagian besar warga Kota Bandung masih terlelap, aktivitas di Pondok Pesantren Sukamiskin sudah dimulai. Sekitar pukul 04.00 WIB, para santri bersiap menunaikan salat Subuh berjamaah. Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan dengan membaca Al-Qur’an, wirid, dan doa-doa yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ketika hari mulai terang, pengajian kembali berlangsung. Sekitar pukul 05.30 WIB, para santri mengikuti pembelajaran sesuai tingkatannya sebelum bersiap menjalani pendidikan formal. Rutinitas itu belum berakhir ketika kegiatan sekolah usai. Pengajian kembali digelar selepas Magrib dan berlangsung hingga malam.
“Dari Magrib ngaji sampai jam 11.00 malam,” kata pengasuh Pondok Pesantren Sukamiskin, KH Abdul Aziz Haidar, Rabu (21/10/2026).
Rutinitas panjang tersebut menjadi bagian dari kehidupan sekitar 250 santri yang kini menimba ilmu di pesantren yang beralamat di Jalan A.H. Nasution Nomor 128, Kota Bandung. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Karawang, Tasikmalaya, dan Sumedang hingga Papua.
Di tempat ini, waktu bukan hanya diukur melalui pergantian siang dan malam, melainkan juga melalui rangkaian ibadah, pengajian, dan proses belajar yang terus berlangsung. Tradisi itulah yang berusaha dipertahankan Pondok Pesantren Sukamiskin sejak berdiri pada 1881.
Kini, ketika usianya mencapai 145 tahun, pesantren tersebut tidak hanya menyimpan jejak panjang pendidikan Islam di Tatar Sunda. Sukamiskin juga menghadapi tanggung jawab untuk memastikan warisan keilmuan yang diterima dari para pendahulu tetap hidup dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Bagi KH Abdul Aziz Haidar, mempertahankan pesantren bukan semata-mata menjaga bangunan atau mengenang sejarah masa lalu. Ada ikatan yang lebih dalam antara pesantren, keluarga pendiri, alumni, dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanannya.
Karena itu, keberlangsungan Sukamiskin memiliki arti tersendiri bagi mereka yang pernah tumbuh dan menimba ilmu di dalamnya.
“Bagi pondok pesantren itu monumen. Pertahankan. Betapa sayangnya kalau alumni dengar Sukamiskin bubar,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pesantren sebagai warisan yang nilainya tidak berhenti pada usia bangunan. Di dalamnya terdapat tradisi pendidikan, amalan keagamaan, hubungan antargenerasi, serta pengalaman hidup yang membentuk para santri.
Sejak didirikan oleh KH Raden Muhammad bin KH Raden Alqo pada 1881, Sukamiskin telah melewati perjalanan panjang. Pada masa awal berdirinya, pengajaran tarekat menjadi salah satu fokus utama pendidikan.
Nama Sukamiskin sendiri disebut berasal dari istilah Arab Suq Misk, yang berarti pasar minyak wangi. Nama tersebut dimaknai sebagai gambaran tempat orang datang untuk menimba ilmu agama, lalu membawa dan menyebarkan manfaatnya ke daerah asal masing-masing.
Seperti minyak wangi yang aromanya menyebar, ilmu yang diperoleh di pesantren diharapkan tidak berhenti pada diri santri. Ilmu itu perlu dibawa pulang, diamalkan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan tempat mereka hidup.
Seiring perkembangan zaman, sistem pendidikan di Pondok Pesantren Sukamiskin mengalami penataan. Pembelajaran yang dahulu berfokus pada pengajaran tarekat berkembang menjadi sistem klasikal dengan jenjang dan kurikulum yang lebih terstruktur.
Menurut KH Abdul Aziz Haidar, pola pendidikan tersebut masih diterapkan hingga kini. Masa pendidikan pesantren dibagi menjadi delapan tingkatan, mulai dari kelas 0A dan 0B, kemudian kelas satu hingga kelas enam.
Melalui tahapan tersebut, santri menjalani proses pembelajaran secara bertahap. Pendalaman ilmu agama berjalan beriringan dengan pembiasaan disiplin, pelaksanaan ibadah, dan pembentukan akhlak.
Di sisi lain, pesantren juga menyelenggarakan pendidikan formal melalui Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Perpaduan ini memberi ruang bagi santri untuk mempelajari ilmu agama sekaligus mengikuti pendidikan formal.
Bagi Sukamiskin, menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan pendidikan. Sistem formal menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan santri, sementara pengajian dan amalan yang diwariskan para pendahulu tetap menjadi unsur penting kehidupan pesantren.
Di sinilah kesinambungan pendidikan diuji: bagaimana lembaga yang telah berdiri lebih dari satu abad tetap menjaga identitasnya, sekaligus menyiapkan santri menghadapi kehidupan yang terus berubah.
Bagi KH Abdul Aziz Haidar, keberhasilan pesantren tidak cukup diukur dari jumlah orang yang belajar di dalamnya. Jumlah santri memang menggambarkan aktivitas pendidikan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Lebih penting dari itu adalah kualitas ilmu yang dipelajari, keberlanjutan tradisi keilmuan, serta manfaat yang dibawa santri setelah kembali ke masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan harapan agar pendidikan pesantren tidak berhenti pada kegiatan belajar di ruang pengajian. Ilmu yang diperoleh perlu tercermin dalam sikap, perilaku, dan kesediaan untuk membantu lingkungan sekitar.
“Harus jadilah santri mah. Harus berani mewakafkan diri ke agama,” ujar KH Abdul Aziz Haidar.
Pesan itu menempatkan pengabdian sebagai bagian penting dari perjalanan seorang santri. Setelah menjalani pendidikan dan memperdalam ilmu agama, mereka diharapkan mampu mengambil peran di tengah masyarakat, sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan masing-masing.
Kepedulian tersebut juga diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan para santri. KH Abdul Aziz Haidar menyampaikan, setiap Subuh mereka turut mendoakan pemerintah dan Kota Bandung agar terhindar dari bencana serta senantiasa berada dalam keadaan aman.
Sementara itu, dalam menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, Ponpes Sukamiskin merencanakan sejumlah kegiatan internal, mulai dari doa bersama dan tahlilan hingga perlombaan lagu-lagu santri. Selain mempererat kebersamaan, kegiatan itu menjadi kesempatan untuk kembali memaknai peran santri dalam kehidupan bermasyarakat.
Usia 145 tahun menempatkan Pondok Pesantren Sukamiskin sebagai bagian dari perjalanan panjang pendidikan Islam di Bandung. Namun, usia dan sejarah saja tidak cukup untuk memastikan sebuah lembaga tetap bermakna.
Keberlanjutan pesantren bergantung pada kemampuan menjaga tradisi, mendidik generasi baru, dan memastikan ilmu yang diwariskan terus memberi manfaat di luar lingkungan pesantren.
Bagi KH Abdul Aziz Haidar, mempertahankan Sukamiskin berarti menjaga ikatan antara masa lalu dan masa depan. Para pendahulu telah meletakkan dasar pendidikan, sementara generasi sekarang memikul tanggung jawab untuk meneruskannya.
Di tengah perubahan zaman, para santri tetap memulai hari dengan salat Subuh berjamaah, melanjutkan pengajian, mengikuti pendidikan formal, lalu kembali mendalami kitab hingga malam. Siklus itu menjadi gambaran sederhana tentang tradisi yang terus dijalankan dari hari ke hari.
Dari Sukamiskin, ilmu diharapkan tidak hanya diwariskan, tetapi juga diamalkan. Sebab, warisan pesantren yang paling penting bukan semata-mata bangunan yang bertahan selama 145 tahun, melainkan nilai keilmuan, akhlak, dan pengabdian yang terus hidup melalui para santrinya. (sp/rob)







