Ratu Balqis mewarisi kepemimpinan dari ayahnya Syarahil bin Dzil Jadn, ia adalah seorang raja agung. Kepemimpin berasal dari warisan ini disebut dengan teori kepemimpinan genetis yang menyatakan bahwa pemimpin itu tidak di buat, akan tetapi lahir melalui bakat-bakat alami sejak lahir. Teori ini sama dengan teori great man yang mengatakan “asal raja menjadi raja” yang berarti anak raja pasti memiliki bakat menjadi raja sebagai pemimpin rakyatnya.
Pada masa jauh setelahnya kita mengenal perdama menteri inggris dengan julukan wanita besi. Margaret Teacher namanya, memimpin Inggris di kala perang dingin berkecamuk antara Blok Timur-Barat. Kedua blok kekuatan dunia berebut pengaruh di setiap konflik di belahan bumi ini. Negara kita sempat masuk dalam pusaran kekuatan itu, meski dengan tetap teguh pada “politik bebas aktif”.
Wanita besi dikenal bisa memutuskan keberpihakan yang tetap proporsional. Meski Inggris masuk dalam Blok Barat bersama negara digdaya Amerika, tapi tetap menjungjung tinggi nilai kemanusiaan. Sampai batas tertentu mampu mencegah konflik berkepanjangan, terutama di daerah Timur Tengah yang kerap jadi bulan-bulanan kepentingan memanfaatkan minyak bumi.
Pesan dari semua kisah kepemimpinan perempuan hampir sama. Perpaduan lembut bicara dan cendrung hati-hati dalam memutuskan perkara. Sifat-sifat keibuan yang melekat pada pemimpin perempuan menjadi dominan dalam langkah kepemimpinannya. Perbedaan jelas dari kepemimpinan perempuan memunculkan rasa teduh dan terlindungi bagi rakyatnya.
Sejarah yang tercatat dalam Alqur’an seperti Ratu Bilqis, dan yang terlihat dalam waktu selanjutnya di lapangan. Ini semua menyimpan pesan kepemimpinan perempuan tetap bisa jadi rujukan di masa mendatang. (*)
Bekasi, Senin, 27 Juli 2020










