Scroll untuk baca artikel
NewsSuara Jateng

Bukan Sekadar Beli Kopi, Wisatawan di Dieng Bakal Diajak Menyusuri Cerita di Balik Produk Lokal

×

Bukan Sekadar Beli Kopi, Wisatawan di Dieng Bakal Diajak Menyusuri Cerita di Balik Produk Lokal

Sebarkan artikel ini
Dengan konsep GI Tourism, wisatawan tidak lagi hanya mengenal Dieng sebagai destinasi wisata alam. Mereka juga dapat membawa pulang pengalaman dan cerita mengenai produk, petani, budaya, serta masyarakat yang membuat kawasan itu memiliki identitas yang khas.
Dengan konsep GI Tourism, wisatawan tidak lagi hanya mengenal Dieng sebagai destinasi wisata alam. Mereka juga dapat membawa pulang pengalaman dan cerita mengenai produk, petani, budaya, serta masyarakat yang membuat kawasan itu memiliki identitas yang khas.

Suarapena.com, BANJARNEGARA – Secangkir kopi di Dataran Tinggi Dieng bukan lagi sekadar minuman. Di balik cita rasanya, ada cerita tentang petani, tanah, ketinggian, tradisi, hingga kehidupan masyarakat yang membentuk karakter kopi tersebut.

Konsep itulah yang kini hendak dikembangkan di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, setelah kawasan ini dipilih sebagai proyek percontohan nasional pertama pengembangan Geographical Indication Tourism (GI Tourism) atau pariwisata berbasis Indikasi Geografis (IG).

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

Melalui konsep tersebut, pengalaman wisatawan tidak berhenti pada membeli dan menikmati produk khas Dieng.

Wisatawan akan diajak mengenal asal-usul produk, melihat proses produksinya secara langsung, berinteraksi dengan petani, sekaligus memahami kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas produk.

Ketua Tim Kerja Pemanfaatan, Utilisasi dan Pengawasan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum Republik Indonesia, Irma Mariana, mengatakan konsep GI Tourism bertujuan mengubah produk Indikasi Geografis menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Ini merupakan upaya mengubah sebuah produk indikasi geografis menjadi pengalaman (wisata), yang pada akhirnya akan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokalnya,” ujar Irma dalam kegiatan IP Talks & Coffee pada Festival Kopi Dieng, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Irma, GI Tourism membuka peluang agar produk khas suatu daerah tidak hanya dikenal karena mereknya atau cita rasanya, tetapi juga karena cerita yang menyertainya.

Wisatawan, misalnya, dapat datang ke sentra produksi, bertemu petani, melihat bagaimana sebuah produk dihasilkan, kemudian membeli produk tersebut dengan pemahaman yang lebih utuh mengenai asal-usulnya.

Berita Terkait:  Drunk Baker Jadi Oleh-Oleh Favorit Wisatawan, Andalkan Roti Premium Fermentasi 12 Jam

“Masyarakat datang ke Dieng, ada experiences, bertemu petani, membeli produk, maka mereka akan memiliki story atau cerita terhadap produk tersebut,” kata dia.

Pengembangan konsep tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, sektor pariwisata, dan masyarakat lokal.

Dieng dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep tersebut karena kawasan ini memiliki tiga produk unggulan yang telah memiliki Indikasi Geografis, yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, dan Purwaceng Dieng.

Karakter ketiga produk tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis dan budaya masyarakat setempat.

Dengan GI Tourism, keunikan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari rantai produksi.

Irma mengatakan pengembangan GI Tourism juga berkaitan erat dengan upaya memperkuat pelindungan kekayaan intelektual.

Menurut dia, kekayaan lokal tidak hanya berupa produk yang telah mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis. Berbagai kekayaan budaya lain juga memiliki potensi untuk dilindungi dan dikembangkan.

DJKI, kata Irma, turut mendorong pelindungan terhadap karya dan kekayaan lokal seperti acara budaya, seni pertunjukan, hingga gastronomi.

Dengan demikian, kekayaan intelektual dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi daerah, bukan sekadar urusan administrasi atau sertifikasi.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menyambut positif dipilihnya Dieng sebagai lokasi pertama pengembangan GI Tourism secara nasional.

Menurut Amalia, terpilihnya Dieng merupakan hasil dari semangat bersama untuk mengembangkan potensi daerah agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Festival kopi ini luar biasa dan dihadiri perwakilan dari seluruh Indonesia. Banjarnegara, yang tadinya tidak masuk dalam daftar, pada akhirnya terpilih menjadi yang pertama untuk GI Tourism. Ini semua dituntun oleh niat bersama, untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Amalia.

Berita Terkait:  6,4 Juta Wisatawan Diprediksi ke Objek Wisata di Jateng

Ia mengatakan pengalaman mengenal kopi secara langsung membuat pandangannya terhadap produk tersebut berubah.

“Dulu saya pikir kopi itu hanya pahit,” kata Amalia.

Namun, setelah memahami cerita di balik kopi, berinteraksi dengan petani, serta mengetahui bahwa setiap wilayah tanam dapat menghasilkan karakter rasa yang berbeda, ia melihat ada potensi besar yang bisa dikembangkan.

“Kita menyadari betapa kayanya potensi ini. Jika kita kompak dan saling menguatkan antarwilayah, kopi dapat membawa nama baik Indonesia,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, lanjut Amalia, berkomitmen mendukung pengembangan berbagai kegiatan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, DJKI juga menyerahkan surat tanda bukti permohonan merek Festival Kopi Dieng, serta surat tanda bukti permohonan merek kolektif Kopi Pegunungan Dieng dan Dieng Culture Festival kepada Project Manager Festival Kopi Dieng, Alif Zen Fahmi.

Penyerahan dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kekayaan intelektual di Dieng.

Dengan konsep GI Tourism, wisatawan diharapkan tidak lagi hanya mengenal Dieng sebagai destinasi wisata alam. Mereka juga dapat membawa pulang pengalaman dan cerita mengenai produk, petani, budaya, serta masyarakat yang membuat kawasan itu memiliki identitas yang khas.

Pada akhirnya, yang dijual dari Dieng bukan hanya secangkir kopi, sebotol carica, atau produk purwaceng. (sp/pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca