Suarapena.com, KLATEN – Sekilas, panganan berwarna kecokelatan itu tampak seperti kurma. Namun, siapa sangka bahan utamanya justru tomat.
Produk bernama Torakur (Tomat Rasa Kurma) itu merupakan inovasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mulya Makmur, Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Keunikan olahan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Sambung Rasa yang digelar di Desa Pakisan, Kamis (1/10/2026).
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bahkan turut mencicipi langsung Torakur. Setelah merasakan olahan tersebut, ia mengaku terkesan dengan rasanya.
“Rasanya mantap, kurma tapi tomat,” ujar Hamenang.
Di balik rasanya yang unik, Torakur lahir dari persoalan sederhana yang kerap dihadapi petani, yakni harga tomat yang turun ketika pasokan melimpah.
Ketua KWT Mulya Makmur, Sulis, mengatakan tomat yang harganya sedang murah tidak harus langsung dijual dengan nilai rendah. Bahan tersebut dapat diolah menjadi produk pangan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Produk unggulan kami adalah sayuran tanpa pestisida. Untuk produk olahan, kami punya Torakur, tomat rasa kurma,” kata Sulis.
“Ketika harga tomat sedang murah, kami mengolahnya menjadi Torakur, agar nilai jualnya lebih tinggi,” lanjutnya.
Proses pembuatannya juga relatif sederhana. Tomat dicuci hingga bersih, kemudian bijinya dibuang. Setelah itu, tomat direndam menggunakan air kapur sirih dan ditiriskan.
Tomat kemudian dimasak bersama gula hingga airnya menyusut. Setelah proses pemasakan selesai, tomat dijemur hingga menghasilkan olahan dengan rasa manis yang menyerupai kurma.
Sulis mengatakan Torakur kini dipasarkan secara daring serta melalui bazar dalam berbagai kegiatan.
“Rasanya manis seperti kurma, pemasarannya online dan saat bazar pada setiap acara,” ujarnya.
Torakur dijual dengan harga Rp 20.000 per kemasan 200 gram. Masyarakat yang ingin memesan dapat menghubungi KWT Mulya Makmur melalui WhatsApp di nomor 082243955451.
Ke depan, pemasaran Torakur juga akan diperluas melalui platform TikTok.
Bagi Pemerintah Kabupaten Klaten, kegiatan Sambung Rasa tidak sekadar menjadi ruang bertemu antara pemerintah dan masyarakat.
Kegiatan yang digelar secara bergiliran dari desa ke desa dan dari kecamatan ke kecamatan itu juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung persoalan sekaligus menggali potensi ekonomi yang dimiliki setiap wilayah.
Hamenang mengatakan pemerintah daerah berupaya menyerap aspirasi masyarakat sekaligus menghadirkan berbagai layanan lebih dekat ke warga.
“Insyaallah pelan-pelan kita selesaikan permasalahan di desa, sekaligus menyerap aspirasi, memberikan bantuan, menghadirkan berbagai macam unit pelayanan, cek kesehatan, perizinan, dan lainnya,” kata Hamenang.
Ia berharap masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan kabupaten tetap dapat memperoleh akses layanan dengan lebih mudah.
“Harapannya dengan Sambung Rasa, masyarakat yang jauh dari kantor pelayanan di kabupaten, bisa mengakses lebih mudah dan dekat,” ujarnya.
Di Desa Pakisan, salah satu potensi yang muncul dari kegiatan tersebut adalah Torakur. Dari tomat yang semula berpotensi memiliki nilai jual rendah, masyarakat mengolahnya menjadi panganan unik yang memiliki nilai tambah.
Tomat pun tak lagi sekadar menjadi pelengkap masakan. Di tangan KWT Mulya Makmur, tomat disulap menjadi “kurma” khas Desa Pakisan. (sp/pr)







