Suarapena.com, MALANG – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memperpanjang penutupan jalur pendakian Gunung Semeru hingga 19 Januari 2025.
Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Semeru yang sebelumnya dimulai pada 2 hingga 16 Januari 2025, kini resmi diperpanjang.
Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap cuaca ekstrem yang diperkirakan akan melanda wilayah tersebut pada awal tahun 2025.
“Berdasarkan pertimbangan dan konsultasi bersama Menteri Kehutanan, kami memutuskan untuk menutup sementara jalur pendakian Gunung Semeru,” ujar Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha dalam surat edaran yang diterima pada Jumat (3/1/2025).
Rudijanta juga mengungkapkan, keputusan penutupan sementara jalur pendakian Gunung Semeru ini semata-mata demi menghindari potensi risiko yang disebabkan oleh cuaca ekstrem, dan menjaga keselamatan serta kenyamanan para pendaki. Oleh karena itu, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni dalam suratnya, mengimbau agar seluruh masyarakat mematuhi keputusan ini dan tidak melakukan aktivitas pendakian secara ilegal.
Di sisi lain, gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini berdasarkan catatan Liswanto, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, sudah beberapa kali erupsi sejak awal tahun 2025.
Pada Rabu, 1 Januari 2025, letusan pertama terjadi pada pukul 00.24 WIB dengan tinggi kolom mencapai 800 meter, dilanjutkan dengan dua erupsi lainnya pada pagi hari dengan kolom abu yang terus bergerak mengarah ke utara. Erupsi terakhir sebelum yang terjadi pada Jumat pagi ini tercatat pukul 07.03 WIB.
Mengantisipasi potensi bahaya, PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah mengeluarkan beberapa rekomendasi. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 8 kilometer dari puncak.
Bukan hanya itu, masyarakat juga diminta untuk menghindari kawasan sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 13 kilometer. Selain itu, radius 3 kilometer dari kawah juga harus dihindari untuk mengurangi risiko terkena lontaran batu pijar.
Dengan status waspada yang masih berlaku, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya awan panas, guguran lava, serta lahar hujan yang bisa melanda sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Beberapa sungai yang harus diwaspadai adalah Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil anak sungai Besuk Kobokan.
Erupsi Semeru ini menambah deretan aktivitas vulkanik yang terus terjadi, menggambarkan kekuatan alam yang harus diwaspadai masyarakat dan pihak berwenang. (sp/bs)










