Yang pasti mengelola keuangan keluarga itu ya tugas bersama. Saya bukan ahlinya, nanti ada narasumber yang akan menyampaikan terkait ‘financial planning’. Ada beberapa istilah ya dalam keuangan. Ada ‘active income’, ‘passive Income’, ‘Frugal Living or Mindful Spending’, yang kira-kira kita diminta menjadi manusia yang bersyukur, tapi di sisi lain kita harus ‘being careful’, hati-hati karena kalau tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan nantinya kita akan repot,” imbuhnya lagi.
Lebih lanjut, tiga poin penting menurut Ibas dalam pengelolaan keuangan, yaitu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, memahami dan menghitung seluruh pendapatan dan pengeluaran, serta memahami dan menyiapkan dana darurat serta jaga utang. “Jangan seperti doraemon, ya, aku ingin begini, aku ingin begitu, banyak sekali. Ojo besar pasak daripada tiang,” ucap Ibas.
Ibas juga mengingatkan pentingnya dana darurat sebagai sumber dana yang dapat digunakan dalam kondisi tidak terduga. “Lebih baik siapkan dana darurat untuk misal tiba-tiba ada krisis keuangan atau biaya kebutuhan penting tak terduga datang,” pesan Ibas.
Ibas berharap, Pelatihan Budgeting & Financial Planning yang diadakan dapat mendorong naiknya partisipasi para perempuan hebat dalam parlemen. Mengutip peribahasa kuno dari negeri Tiongkok, Ibas mengatakan ‘the best time to plant a tree was 20 years ago. The second best time is now‘. “So, start now and make it happen!” tukasnya.
Hadir sebagai narsumber, Widya Prima menyampaikan tips-tips pengelolaan keuangan yang baik. Dia mengatakan, pondasi utama dalam mengelola akumulasi aset dan investasi adalah keamanan keuangan, atau dalam hal ini catatan pemasukan dan pengeluaran. “Kita harus mengelola aset dengan baik, yaitu dengan cara mengontrol pengeluaran. Seperti yang Mas Ibas sampaikan tadi, kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” terang Widya saat menyampaikan materinya.










