Suarapena.com, BANJARNEGARA – Dua lelaki berdiri berhadapan di tengah Lapangan Krida Manunggal, Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara.
Di tangan mereka tergenggam sebilah rotan.
Suara gamelan mengalun. Penonton bersorak dari tepi lapangan. Kedua lelaki itu kemudian meliukkan tubuh mengikuti irama sebelum saling mengayunkan rotan ke arah kaki lawannya.
Sekilas, adegan tersebut tampak seperti pertarungan.
Namun, bagi masyarakat Gumelem Wetan, aksi itu merupakan bagian dari tradisi Ujungan, kesenian sekaligus ritual warisan leluhur yang dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Di balik kerasnya sabetan rotan, terdapat aturan yang harus dipatuhi para peserta. Sportivitas juga menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.
Salah seorang tokoh adat setempat, Budi Sulistyo, mengatakan peserta Ujungan tidak boleh bertanding secara sembarangan. Setiap peserta wajib mengikuti aturan dan mempertunjukkan gerakan tari sebelum maupun sesudah saling sabet.
“Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam, selesai bertarung mereka berdamai, bersalaman dan berpelukan,” ujar Budi.
Pertandingan Ujungan juga diawasi oleh landhang atau wasit. Tugasnya memastikan peserta mematuhi aturan selama pertarungan berlangsung.
Budi mengatakan aturan permainan Ujungan telah diperketat sejak 1980 untuk meningkatkan keselamatan peserta.
Kini, sabetan rotan hanya diperbolehkan mengenai bagian tubuh dari paha ke bawah.
Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi untuk menangani peserta apabila mengalami cedera.
Menurut Budi, secara historis tradisi Ujungan tidak memiliki catatan cedera parah maupun korban jiwa.
Dengan aturan tersebut, unsur pertarungan tetap dipertahankan sebagai bagian dari tradisi, tetapi keselamatan peserta menjadi perhatian.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara turut mendorong pelestarian Ujungan sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan Ujungan merupakan aset budaya leluhur yang harus terus dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tentunya kami harapkan ini diuri-uri terus agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang,” kata Hendro dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara juga telah mendaftarkan Ujungan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) agar mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman, mengatakan pihaknya mengusulkan empat potensi budaya lokal untuk ditetapkan sebagai WBTB.
Keempatnya adalah Ujungan, Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu.
“Kita sudah mengusulkan Ujungan, Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu untuk ditetapkan jadi WBTB. Harapannya dari potensi lokal ini akan ada multiplier effect menjadi daya tarik wisata dan menggerakan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Tursiman.
Gelaran budaya Ujungan di Desa Gumelem Wetan juga diikuti pendekar dari sejumlah wilayah.
Selain berasal dari Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon, para peserta datang dari desa-desa sekitar hingga beberapa wilayah di Kabupaten Purbalingga dan Banyumas.
Mereka berkumpul untuk mempertunjukkan kemampuan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Di lapangan, rotan boleh beradu.
Namun, pertarungan bukan untuk melahirkan permusuhan.
Setelah pertandingan berakhir, para petarung kembali bersalaman dan berpelukan. Nilai itulah yang membuat Ujungan tidak hanya menjadi atraksi adu ketangkasan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi, sportivitas, dan persaudaraan masyarakat.
Kini, di tengah perubahan zaman, masyarakat Gumelem Wetan berupaya memastikan Ujungan tetap hidup—bukan sekadar sebagai ritual memohon hujan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Banjarnegara. (sp/pr)







