Scroll untuk baca artikel
News

BGN Ungkap Dampak MBG: Siswa Berangkat Sekolah dalam Kondisi Lapar Turun Jadi 16 Persen

×

BGN Ungkap Dampak MBG: Siswa Berangkat Sekolah dalam Kondisi Lapar Turun Jadi 16 Persen

Sebarkan artikel ini
Kepala BGN Sudaryono bilang MBG berdampak, siswa berangkat sekolah dalam kondisi lapar turun dari 56 persen jadi 16 persen, konsumsi protein hewani tembus 84 persen.
Kepala BGN Sudaryono bilang MBG berdampak, siswa berangkat sekolah dalam kondisi lapar turun dari 56 persen jadi 16 persen, konsumsi protein hewani tembus 84 persen.

Suarapena.com, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan dampak positif terhadap pola konsumsi pangan siswa. Berdasarkan data penelitian yang dipaparkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, persentase siswa yang berangkat ke sekolah dalam kondisi lapar turun dari 56 persen menjadi 16 persen. Di sisi lain, konsumsi protein hewani meningkat hingga 84 persen, sementara konsumsi buah dan sayur mencapai 90 persen.

Sudaryono menyampaikan capaian tersebut saat peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Aceh Besar, Rabu (14/10/2026).

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

“Alhamdulillah, dengan adanya program MBG ini, dari 56 persen siswa yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar, turun 50 persen menjadi 16 persen. Kami berharap angka ini bisa terus turun hingga nol, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar,” ujar Sudaryono.

Menurutnya, penurunan jumlah siswa yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar menjadi salah satu indikator penting dalam upaya meningkatkan akses anak terhadap makanan bergizi. Pemerintah berharap program ini dapat terus diperluas agar semakin banyak peserta didik memperoleh asupan yang memadai untuk mendukung aktivitas belajar dan tumbuh kembang mereka.

Selain membantu pemenuhan kebutuhan pangan, MBG juga menunjukkan perubahan pada pola konsumsi protein hewani peserta didik. Data yang dipaparkan Sudaryono mencatat, tingkat konsumsi protein hewani meningkat dari 26 persen sebelum program berjalan menjadi 84 persen setelah program dilaksanakan.

Berita Terkait:  Nuroji Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis di Depok

Protein hewani, seperti telur, ikan, ayam, dan daging, merupakan sumber zat gizi yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, peningkatan akses terhadap pangan bergizi menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi anak usia sekolah.

Meski demikian, Sudaryono menyebut masih terdapat 16 persen siswa di wilayah yang belum terjangkau MBG. Pemerintah, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memperluas jangkauan program agar anak-anak yang belum menerima manfaatnya dapat segera memperoleh layanan makanan bergizi di sekolah.

“Jadi, konsumsi protein hewani anak-anak kita meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Masih ada 16 persen anak-anak yang wilayahnya belum tersentuh MBG. Ini menjadi tanggung jawab kami agar mereka sesegera mungkin mendapatkan haknya, yaitu makanan bergizi gratis di sekolah masing-masing,” jelasnya.

Perubahan pola konsumsi siswa juga terlihat pada kelompok pangan buah dan sayur. Sudaryono menyampaikan bahwa tingkat konsumsi buah dan sayur meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.

Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan positif dalam pola konsumsi pangan siswa. Namun, penyediaan makanan bergizi di sekolah perlu diimbangi dengan edukasi agar anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan beragam dan menerapkan pola makan seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait:  Ranny Fahd Arafiq Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis di Cinere

BGN menilai pembentukan kebiasaan makan sehat tidak dapat hanya mengandalkan penyediaan makanan di sekolah. Pemahaman mengenai manfaat setiap kelompok pangan perlu ditanamkan secara berkelanjutan, baik melalui kegiatan pembelajaran maupun kebiasaan makan di lingkungan keluarga.

Karena itu, keterlibatan guru dan orang tua dinilai penting untuk memperkuat edukasi gizi. Dengan pendampingan yang konsisten, siswa diharapkan semakin memahami pentingnya mengonsumsi protein, buah, sayur, dan berbagai sumber pangan lainnya sesuai kebutuhan tubuh.

BGN menegaskan bahwa perluasan akses terhadap makanan bergizi harus berjalan beriringan dengan penguatan edukasi gizi. Kedua upaya tersebut diperlukan agar manfaat MBG tidak hanya dirasakan melalui penyediaan makanan, tetapi juga melalui terbentuknya kebiasaan konsumsi yang lebih sehat.

Pemerataan layanan menjadi tantangan penting, terutama bagi siswa di wilayah yang belum terjangkau program. Perluasan jangkauan diharapkan dapat memastikan semakin banyak anak memperoleh akses terhadap makanan bergizi di sekolah.

Dengan dukungan penyediaan pangan yang memadai, edukasi gizi berkelanjutan, serta keterlibatan guru dan orang tua, MBG diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas gizi anak Indonesia dan membangun pola konsumsi pangan yang lebih sehat bagi generasi mendatang. (sp/pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca