Scroll untuk baca artikel
NewsSuara Jogja

BMKG Prediksi Musim Hujan di DIY Mundur, Baru Mulai November

×

BMKG Prediksi Musim Hujan di DIY Mundur, Baru Mulai November

Sebarkan artikel ini
Prediksi BMKG musim hujan di DIY mundur, baru mulai akhir November 2026.
Prediksi BMKG musim hujan di DIY mundur, baru mulai akhir November 2026.

Suarapena.com, YOGYAKARTA – Musim hujan 2026/2027 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi datang lebih lambat. BMKG memperkirakan awal musim hujan di seluruh wilayah DIY mundur hingga tiga dasarian dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020.

Wilayah yang diprediksi lebih dulu memasuki musim hujan adalah Kulon Progo bagian utara serta Sleman bagian utara dan tengah. Hujan diperkirakan mulai datang pada pekan ketiga November 2026.

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

Prediksi tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, dalam Ekspose Informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 DIY, Rabu (30/9/2026).

Menurut Mamenun, mundurnya musim hujan berkaitan dengan dampak El Nino yang turut menyebabkan periode Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan di DIY.

“Mundurnya musim hujan ini merupakan dampak dari El Nino yang juga mengakibatkan terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, termasuk di DIY,” ujar Mamenun.

Kondisi kering berkepanjangan tersebut terlihat dari pemantauan Stasiun Klimatologi DIY terhadap 103 pos hujan yang tersebar di seluruh wilayah DIY.

Dari jumlah tersebut, 81 pos mengalami HTH ekstrem selama lebih dari 60 hari.

Periode tanpa hujan terpanjang tercatat di Pajangan, Kabupaten Bantul, yang mencapai 141 hari.

Data tersebut menunjukkan panjangnya periode kering yang terjadi sebelum musim hujan 2026/2027 tiba.

Setelah Kulon Progo bagian utara serta Sleman bagian utara dan tengah, sejumlah wilayah lain diprediksi menyusul memasuki musim hujan pada Desember.

Pada pekan pertama Desember 2026, awal musim hujan diperkirakan terjadi di:

-Kulon Progo bagian timur;
-Kota Yogyakarta;
-Sleman bagian timur, selatan dan barat;
-Bantul bagian utara;
-Gunungkidul bagian utara.

Sementara pada pekan kedua Desember, musim hujan diprediksi mulai terjadi di Kulon Progo bagian barat dan selatan, Bantul bagian timur, barat dan selatan, serta Gunungkidul bagian timur, barat dan selatan.

Berita Terkait:  Cuaca Malam Pergantian Tahun Diprediksi BMKG Aman

Untuk durasi musim hujan 2026/2027, Kulon Progo bagian utara diprediksi mengalami musim hujan selama 16-18 dasarian.

Sementara wilayah Kulon Progo bagian barat, timur dan selatan, Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, serta Gunungkidul diprediksi mengalami musim hujan selama 13-15 dasarian.

Puncak musim hujan di DIY diprediksi terjadi pada Februari dan Maret 2027.

Pada Februari 2027, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di Kulon Progo bagian utara dan timur, Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara, serta Gunungkidul bagian barat.

Sedangkan pada Maret 2027, puncak musim hujan diprediksi terjadi di Kulon Progo bagian barat dan selatan, Bantul bagian selatan, serta sebagian besar wilayah Gunungkidul.

Musim hujan kemudian diprediksi mulai berakhir pada April 2027 secara bertahap.

BMKG memprediksi curah hujan Oktober 2026 masih berada pada kategori rendah, yakni 0-50 milimeter per bulan.

Pada November, curah hujan diperkirakan meningkat menjadi 51-300 milimeter per bulan, atau kategori rendah hingga menengah.

Peningkatan lebih signifikan diprediksi terjadi pada Desember, dengan curah hujan 151-500 milimeter per bulan, masuk kategori menengah hingga tinggi.

“Untuk prediksi hujan bulanan di 2026 ini, pada bulan Oktober curah hujan diperkirakan antara 0-50 mm perbulan, atau masuk kategori rendah. Untuk November curah hujan akan berkisar di 51-300 mm perbulan, terkategori rendah hingga menengah. Baru di bulan Desember curah hujan meningkat antara 151-500 mm perbulan, atau kategori menengah hingga tinggi,” paparnya.

Stasiun Klimatologi DIY merekomendasikan sejumlah langkah menghadapi mundurnya musim hujan dan perubahan kondisi cuaca.

Di sektor pangan, penyesuaian jadwal tanam perlu dilakukan. Petani juga disarankan memilih varietas tanaman dengan siklus tanam lebih pendek serta meningkatkan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Berita Terkait:  Salju Abadi di Papua Menipis Drastis, Bukti Pemanasan Global yang Mengancam

Untuk sektor sumber daya air, masyarakat dapat memanfaatkan air hujan dan menambah kapasitas tampung air di tingkat rumah tangga.

Identifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur juga perlu dilakukan. Pengelolaan drainase serta konservasi air secara berkelanjutan juga perlu dioptimalkan.

Di sektor energi, pengelolaan inflow dan elevasi waduk perlu diperhatikan, termasuk pengaturan pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA.

Sementara sektor lingkungan perlu menyiapkan mekanisme respons terhadap kemungkinan memburuknya kualitas udara akibat periode tanpa hujan yang berkepanjangan.

Sementara sektor lingkungan perlu menyiapkan mekanisme respons terhadap kemungkinan memburuknya kualitas udara akibat periode tanpa hujan yang berkepanjangan.

Di sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus demam berdarah. Fasilitas kesehatan juga perlu bersiap menghadapi penyakit yang berkaitan dengan genangan setelah hujan maupun banjir.

“Bagi sektor kesehatan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah, serta penyakit akibat genangan pasca hujan atau banjir,” ujar Mamenun.

Adapun sektor kebencanaan diminta tetap mewaspadai kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan selama periode kering.

Memasuki awal hingga puncak musim hujan, kesiapan menghadapi banjir dan longsor juga perlu diperkuat. Optimalisasi drainase dan kesiapan evakuasi menjadi langkah yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi.

“Di sektor kebencanaan, tetap waspada dengan kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan, serta optimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan,” pungkas Mamenun. (sp/rt)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca