Bahkan, pada perguruan tinggi di tingkat S2 dan S3, abstraknya harus menggunakan bahasa Sunda. Hal tersebut dalam rangka pelestarian bahasa dan budaya Sunda, meski mahasiswanya berasal dari berbagai provinsi.
“Penyampaian mata pelajaran pun dengan bahasa Sunda. Saat menguji sidang pun saya pakai bahasa Sunda,” tuturnya.
Ia menambahkan, siapapun bisa menjadi anggota Paguyuban Pasundan. Sebab paguyuban ini menganut pendekatan kultural.
“Di luar orang Jawa Barat bisa menjadi dekan karena pendekatan kita adalah kultural. Siapapun yang mencintai budaya Sunda dia sudah termasuk dalam Paguyuban Pasundan,” katanya.
Tepat pada 20 Juli mendatang, Milangkala Paguyuban Pasundan akan diperingati di Pendopo Kabupaten Cianjur. Didi menuturkan, pelaksanaan milangkala di Cianjur juga dalam rangka menggembirakan masyarakat yang kemarin sempat terkena musibah.
“Ada upacara khusus juga dan beberapa penghargaan kepada masyarakat yang sudah berkontribusi untuk melestarikan budaya Sunda,” tuturnya.
“Kami juga akan meresmikan rumah singgah. Ini sebagai tempat untuk pelatihan industri kepada masyarakat. Kita bantu pengemasan dan pemasarannya,” imbuh Didi. (din)










