Suarapena.com, BOYOLALI – Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Desa Pandeyan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjadi pilihan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menawarkan harga sejumlah bahan pokok lebih murah dibandingkan toko lain, koperasi yang baru beroperasi sekitar satu bulan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Manajer Kopdes Merah Putih Desa Pandeyan, Dea Hagania Laia, mengatakan koperasi mulai beroperasi pada 14 September 2026. Saat ini, berbagai kebutuhan tersedia, mulai dari sembako, beras, minyak goreng, gula, gas LPG, hingga pupuk bersubsidi.
“Berdasarkan pengalaman dan berdialog dengan warga yang sudah membeli di sini, harganya cukup terjangkau, bahkan lebih murah daripada di luar,” kata Dea, Jumat (16/10/2026).
Salah satu daya tarik koperasi ini adalah harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau. Minyak goreng Minyakita dijual Rp 15.700 per liter, sedangkan di luar koperasi harganya bisa mencapai Rp 18.000 hingga Rp 20.000.
Sementara itu, gas LPG dijual Rp 16.000, dibandingkan harga sekitar Rp 20.000 di tempat lain. Selisih harga tersebut membantu warga menghemat pengeluaran rumah tangga.
Koperasi ini juga melayani pembelian pupuk bersubsidi bagi petani, meliputi pupuk Urea, NPK Phonska, dan pupuk organik. Layanan tersebut diharapkan memudahkan petani memperoleh pupuk tanpa harus pergi jauh ke luar desa.
Selain memenuhi kebutuhan pokok, Kopdes Merah Putih Desa Pandeyan mulai membuka akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Saat ini, lima produk UMKM telah dipasarkan setelah melalui proses seleksi kualitas. Pengelola berharap kerja sama dengan pelaku usaha setempat dapat terus diperluas.
“Ke depan, kami berharap dapat memperluas kerja sama dengan pelaku UMKM lainnya di Desa Pandeyan,” ungkap Dea.
Dari sisi usaha, omzet koperasi diperkirakan mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per hari. Pengelola berharap semakin banyak warga berbelanja sehingga usaha koperasi terus berkembang.
Lastri, salah seorang pembeli, mengaku senang dapat membeli berbagai kebutuhan rumah tangga dengan harga lebih murah. Ia membeli minyak goreng, beras, mi instan, kecap, sampo, dan sabun.
“Semua ada di sini, lebih murah. Ibu-ibu kalau murah lebih senang,” tutur Lastri.
Hal serupa disampaikan Pipit, warga Desa Pandeyan, yang mengetahui informasi harga murah dari masyarakat. Menurutnya, selisih harga barang berkisar Rp 2.000 hingga Rp 3.000, bergantung pada jenis produk.
Pipit berharap koperasi menambah variasi produk dan memperpanjang jam operasional agar semakin memudahkan warga.
“Saya berharap ke depan produk yang tersedia semakin lengkap, dan jam operasional koperasi diperpanjang,” harapnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mempercepat pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) melalui verifikasi dan validasi gerai.
Dari 4.230 Kopdes yang menjadi prioritas, progres verifikasi dan validasi hingga akhir September 2026 mencapai 61,67 persen, melampaui target nasional.
Pemprov Jateng juga menyiapkan sertifikasi kompetensi bagi 5.040 bendahara Kopdes yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober hingga November 2026.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pengembangan unit bisnis Kopdes Merah Putih harus disesuaikan dengan potensi komoditas unggulan dan karakteristik setiap daerah.
“Tidak semua Kopdes harus dipukul rata sama, disesuaikan kearifan lokal daerahnya,” kata Luthfi.
Pengembangan Kopdes Merah Putih diharapkan tidak hanya memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga memperkuat pemasaran produk UMKM dan mendukung kebutuhan petani di tingkat desa. (sp/pr)







