Suarapena.com, SEMARANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah meningkat tajam sepanjang 2026. Hingga 23 Agustus 2026, tercatat 232 kejadian karhutla di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menunjukkan, jumlah tersebut melonjak sekitar 700 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Peningkatan kejadian karhutla mulai terlihat seiring memasuki musim kemarau, terutama pada Juni, Juli, dan Agustus.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, pemerintah daerah telah menerima laporan karhutla dari sejumlah wilayah, di antaranya Wonogiri dan Kudus.
“Kebakaran hutan dan lahan memang ada di beberapa tempat. Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri dan Kudus,” kata Taj Yasin, Selasa (25/8/2026).
Taj Yasin meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah munculnya titik kebakaran baru.
Menurut dia, kondisi musim kemarau yang semakin panas membuat potensi kebakaran perlu diantisipasi bersama.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.
“Kita harus antisipasi, kita harus menjaga betul. Kalau merokok jangan buang puntung rokok asal lempar, karena bisa menyebabkan kebakaran,” ujarnya.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, secara keseluruhan terdapat 547 kejadian kebakaran di Jawa Tengah sepanjang 1 Januari hingga 23 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 232 kejadian merupakan karhutla, sementara 315 kejadian lainnya berupa kebakaran gedung dan permukiman.
Sebanyak 232 kejadian karhutla tersebut tersebar di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Dampak kebakaran meliputi 194 hektar lahan, 213 hektar hutan, dan 2,17 hektar area tempat pembuangan akhir (TPA).
Adapun total kerugian akibat kerusakan tersebut ditaksir mencapai Rp 23 miliar.
Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah, Klaten menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 31 kejadian.
Posisi berikutnya ditempati Sragen dengan 30 kejadian dan Sukoharjo sebanyak 18 kejadian.
Berikut rincian 10 daerah dengan kejadian karhutla tertinggi:
-Klaten: 31 kejadian
-Sragen: 30 kejadian
-Sukoharjo: 18 kejadian
-Wonogiri: 17 kejadian
-Boyolali: 16 kejadian
-Blora: 14 kejadian
-Kabupaten Semarang: 13 kejadian
-Banyumas: 10 kejadian
-Kudus: 10 kejadian
-Kota Tegal: 8 kejadian
Bergas mengatakan, kebakaran paling banyak terjadi di lahan pertanian, khususnya tanaman tebu dan semak belukar.
Ia menduga sebagian kejadian dipicu kelalaian manusia.
“Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian, khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error. Untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen,” kata Bergas.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, BPBD Jawa Tengah mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, terutama di lahan dan kawasan hutan yang kondisinya kering. (sp/pr)







