Suarapena.com, SEMARANG – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana mengajak semua elemen masyarakat untuk bekerja sama dan bersatu, demi menyukseskan Pemilu 2024 di Jawa Tengah.
Ia menilai, kolaborasi dan sinergi antara penyelenggara, peserta, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk mencapai tiga indikator keberhasilan dalam pemilu, yaitu partisipasi pemilih yang tinggi, tidak ada konflik yang merusak persatuan, serta pemerintahan dan pelayanan masyarakat berjalan tanpa gangguan.
Hal itu disampaikan Nana Sudjana dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral dalam rangka persiapan Operasi Mantap Brata 2023-2024 atau Pengamanan Pemilu 2024, yang diselenggarakan oleh Polda Jateng di Hotel Patra Jasa, Kota Semarang, Selasa (10/10/2023).
“Menurut saya ada tiga indikator kesuksesan Pemilu. Itu yang harus selalu kita sosialisasikan dan jaga, agar penyelenggaraan Pemilu nanti sukses,” ujar Nana.
Nana menjelaskan, pemerintah memiliki sejumlah peran dalam perhelatan pemilu, antara lain penyusunan data kependudukan, memberikan perlindungan hukum dan keamanan, pelaksanaan kampanye, percetakan dan distribusi logistik, penanganan ketenteraman, ketertiban, keamanan, menjamin kelancaran pelaksanaan Pemilu, serta menjamin netralitas aparatur sipil negara (ASN), dari pengaruh dan intervensi semua golongan atau partai politik.
Saat ini, jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di Jawa Tengah pada Pemilu 2024 mencapai 28.289.413 orang pemilih, terdiri dari 14.113.893 orang laki-laki dan 14.175.520 orang perempuan.
Penyusunan data pemilih ini terus dikoordinasikan dengan KPU sebagai penyelenggara pemilu.
Nana juga menyampaikan gambaran pemilih di Jawa Tengah berdasarkan kategori generasi. Kategori pre boomer (pemilih yang lahir sebelum 1945) sebanyak 2,16% atau 611.919 orang pemilih, kategori baby boomer (lahir tahun antara 1946-1964) sebanyak 16,62% atau 4.702.658 orang pemilih.
Sedangkan kategori generasi X atau Gen-X (lahir kisaran 1965-1980) sebanyak 28,34% atau 8.017.620 orang pemilih, kategori milenial (lahir kisaran tahun 1981-1996) sebanyak 32,05% atau 9.065.832 orang pemilih, dan kategori generasi Z atau Gen-Z (lahir kisaran tahun 1997-2007) sebanyak 20,83% atau 5.891.384 orang pemilih.
“Sampai saat ini DPT di Jawa Tengah dari jumlah penduduk sebesar 37 juta pemilih, DPT kita ada 28,3 juta pemilih, tetapi masih fluktuatif karena masih dapat bertambah atau berkurang, meskipun dalam jumlah kecil,” jelas Nana.
Terkait pengamanan di Jateng, Nana menyatakan bahwa Pemprov Jateng terus meningkatkan kolaborasi dengan Polda Jateng dan Kodam IV/ Diponegoro.
Ia menegaskan bahwa Jawa Tengah sudah siap untuk melaksanakan Pemilu 2024 dengan aman dan damai.
Nana juga mengungkapkan bahwa berdasarkan indeks kerawanan pemilu dari Bawaslu, Jawa Tengah masuk dalam kategori rawan sedang.
Namun demikian, ada tujuh kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masuk dalam kategori rawan tinggi, yaitu Kota Semarang, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Kendal.
“Kelihatannya di sini tenang, tetapi saya ingatkan soal kesiapsiagaan. Rasa aman ini harus betul-betul dijaga, untuk menjaga stabilitas Jawa Tengah,” kata Nana.
Nana juga meminta agar semua pihak waspada terhadap penyebaran berita hoaks selama tahapan pemilu. Sebab waktu kampanye pemilu kali ini hanya sela 75 hari, sehingga manuver dan aktivitas peserta kampanye akan sangat masif.
Sementara itu, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, Operasi Mantap Brata 2023-2024 akan mulai diberlakukan pada 19 Oktober 2023.
Rakor lintas sektoral ini untuk memantapkan kembali kesiapan pengamanan pemilu di Jawa Tengah.
Setidaknya, akan ada 21.300 personel yang akan dikerahkan untuk pengamanan pemilu di Jawa Tengah.
Jumlah itu kata dia, masih ditambah personel dari TNI sebanyak 5.570. Personel gabungan itu akan berjaga di 117.299 tempat pemungutan suara (TPS) dan tempat-tempat vital, termasuk kantor KPU dan Bawaslu, serta objek vital lain.
“Hampir 22 ribu personel kita yang akan tersebar di 117 ribu TPS di Jateng,” katanya.
Luthfi menambahkan, untuk mengantisipasi konflik yang ada di masyarakat, Polda Jateng juga membentuk Satgas Cooling System.
Mereka nantinya bertugas mendinginkan masyarakat atau meredam percikan konflik yang ada di masyarakat.
Satgas itu terdiri atas satgas manajemen media, satgas manajemen sosial, dan satgas manajemen kemitraan. (r5/pr)










