Suarapena.com, JAKARTA – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengunjungi pameran seni ukir Tatah 2026 bertajuk “Suluk-Sulur-Jepara” di Museum Nasional Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Pameran yang digelar di Ruang Pamer Temporer A itu menampilkan perjalanan panjang seni ukir Jepara berbasis riset sejarah. Pengunjung diajak melihat perkembangan ukiran dari berbagai era, mulai dari masa Ratu Shima, periode Majapahit, hingga kiprah Raden Ajeng Kartini dalam memperkenalkan kriya Jepara ke Eropa.
Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin mengapresiasi kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jepara, Dekranasda Jepara, serta Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) DPD Jepara Raya.
Menurut dia, kekuatan seni ukir tidak hanya terletak pada hasil karya, tetapi juga pada cerita di balik proses pembuatannya.
“Jadi teknik storytelling itu penting. Kalau orang mengetahui bagaimana ceritanya, mengetahui bagaimana kerumitannya, sehingga orang akan kembali lagi,” kata Gus Yasin.
Ia menilai, pendekatan narasi tersebut dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap seni ukir sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Selain itu, Gus Yasin mendorong agar pameran tidak berhenti sebagai ajang display, melainkan dikembangkan dalam bentuk visualisasi yang lebih luas, termasuk melalui kerja sama dengan media televisi nasional.
Ia juga menegaskan bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi besar sebagai penopang ekonomi daerah. Keunikan dan tingkat kerumitan karya dinilai menjadi keunggulan yang sulit ditandingi daerah lain.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya pelestarian di tengah perkembangan zaman.
“Saya berharap jangan ditinggalkan. Boleh kita mengikuti zaman, akan tetapi peninggalan yang dari tahun ke tahun, bahkan sejak abad ke-16, harus dipertahankan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut dia, berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan seni ukir melalui regenerasi pengrajin serta dokumentasi sejarah yang lebih sistematis.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menilai pameran Tatah 2026 tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga mengandung nilai filosofis.
Menurut dia, tema “suluk” dan “sulur” mencerminkan proses panjang dalam seni ukir, mulai dari memahat hingga menghasilkan bentuk yang indah.
“Dalam prosesnya bagaimana pahatan-pahatan ini dikurangi, kemudian dibuang, untuk memunculkan keindahan-keindahan,” kata Nawal.
Ia menambahkan, pameran ini juga membuka peluang pasar baru bagi produk kerajinan Jepara. Dekranasda Jawa Tengah, kata dia, terus berupaya memperluas akses pemasaran sekaligus mendorong regenerasi pengrajin melalui pelatihan dan pendampingan.
Dengan demikian, seni ukir Jepara diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi kreatif. (sp/pr)










