SUARAPENA.COM – Herman Onesimus Lantang atau yang akrab disapa Herman Lantang adalah salah satu pendiri Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).
Pria kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 2 Juli 1940 itu gemar terhadap alam ketika ayahnya yang berprofesi sebagai tentara sering mengajaknya keluar-masuk hutan di Tomohon untuk berburu.
Setelah tamat dari Europrrshe Lagere School SR GMIM4 (setaraf SD), Herman kecil melanjutkan sekolahnya ke SMPK Tomohon.
Herman mulai hijrah ke ibu kota bersama orang tuanya yang saat itu dipindah tugaskan ke daerah baru.
Di Jakarta inilah Herman melanjutkan kembali pendidikan formalnya di SMA 1 (Budi Utomo) pada tahun 1957.
Setelah lulus dari Budi Utomo, Pada tahun 1960, Herman mengikuti segudang tes yang cukup rumit agar dapat masuk ke kampus dan jurusan yang ia inginkan.
Herman pun berhasil masuk ke Fakultas Sastra UI Jurusan Antropologi, yang banyak berkutat dengan kebudayaan dan perilaku manusia.
Selama menjadi mahasiswa, Ideologinya pun mulai terbentuk. Herman banyak melihat dari rekan-rekannya yang memilih jalur politik praktis untuk mencapai kemapanan.
Namun, berbanding terbalik dengan dirinya, Ia bersama rekan lainnya lagi malah memilih alam sebagai media pengembangan diri.
Bersama Soe Hok Gie, dia menjadi inspirator gerakan demo long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno, pasca Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan gerakan mahasiswa yang menggulirkan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).
Mantan Ketua Senat Fakultas Sastra UI yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Mapala UI pada tahun 1972-1974 itu sempat melakukan penelitian mendalam terhadap perilaku suku terasing Dhani di Papua pada tahun 1972 dan mengantarkannya mencapai gelar sarjana penuh.
Setelah tidak lagi berkegiatan didalam kampus, jiwa petualangannya membuat Herman diterima di beberapa perusahaan pengeboran minyak ternama, seperti: Oil Field all part of Indonesia, East Malaysia Egypt dan Australia East Texas USA.
Di dunia kerjanya, Herman dikenal sebagai Mud Doctor yang menangani masalah lumpur-lumpur dalam pengeboran minyak bumi.
Kemudian, pada tahun 1974 Herman sempat mengecam pendidikan singkat di Houston Texas. Ia mengambil studi tentang “Mud School”.
Di masa pensiunnya, ternyata Herman mengambil langkah lain. Ia memunculkan kembali bakat terpendamnya saat melakukan petualangan, yaitu memasak.
Dengan modal ala kadarnya, rumahnya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pun disulap menjadi toko kue “Kelapa Tiga Taart Tempo Doeloe”.
Di toko itu, sahabat tokoh pergerakan yang bernama Soe Hok Gie itu menjual aneka panganan kue-kue klasik yang menurutnya agak susah ditemukan di Jakarta.
Dengan didampingi oleh satu dari tiga anaknya, pemilik nomor anggota M 016 UI itu memasak sendiri kue-kuenya.
Herman mengaku memiliki banyak buku resep kue klasik Belanda, seperti oentbijkoek dan klappertaart.
Namun, kini Herman Lantang sudah tiada. Dia pergi selamanya meninggalkan kita semua, dan menyusul sahabatnya, Soe Hok Gie.
Selamat jalan opa, karya dan jasamu akan dikenang sepanjang masa. (Bbs)







