Kekeliruan Trump Declaration
Ada dialog klasik yang diawali dengan pertanyaan “Sebesar apa sih nilai Quds (Yerusalem)?” Lalu muncul jawaban “Quds tak berarti apa-apa, namun Quds adalah segalanya”.
Quds atau Yerusalem sepanjang sejarahnya adalah catatan pertumpahan darah. Tak pernah terjadi penguasa Yerusalem menyerahkan Yerusalam secara sukarela kepada siapapun. Kecuali hanya dalam satu momen sejarah ketika penguasa Yerusalem (Patriach Sophronius) menyerahkan kunci kota langsung kepada Umar bin Khattab pada tahun 637 M. Fakta ini seakan memberi pesan bahwa, Yerusalem lebih sering dikuasai dengan merebutnya. Bukan dihadiahkan.
Keputusan Trump (yang mungkin kelak dicatat sebagai “Trump Declaration”) pada 06 Desember 2017, hanya berselisih beberapa hari dari tanggal “Balfour Declaration” buatan Inggris pada 02 November 1917, yang berisi hak bagi Yahudi untuk mendirikan Negara Israel. Dan 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 1947, Negara Israel lahir. Tambah ironis, karena Inggris bersama Perancis justru menjadi negara pertama yang secara terbuka menolak “Trump Declaration”.
Secara alami, kontur tanah Yerusalem memang tak memiliki keistimewaan spesifik dari segi lokasi maupun tingkat kesuburannya. Quds hanya sebuah bukit yang awalnya adalah tanah tandus tak menarik ketika dibuka pertama kali dan diolah oleh Nabi Ibrahim sekitar 2.200 tahun sebelum masehi. Tapi secara spiritual, Yerusalem adalah segalanya bagi penganut tiga agama Samawi yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.










