Ketika salah satu penganut tiga agama itu menguasai Yerusalem, konflik pun terjadi. Dan itu sekali lagi terjadi sepanjang sejarah Yerusalem. Artinya, Yerusalem adalah kota suci yang “ditakdirkan” menjadi ajang konflik tanpa jeda.
Tentu bagi Israel dan warga Yahudi saat ini dan di manapun, “Trump Declaration” akan dicatat sebagai sebuah loncatan strategis dalam kronologi sejarah Yahudi. Namun “Trump Declaration” tak beda jauh dengan “Balfour Declaration (1917)” atau bahkan dengan pembentukan Gerakan Zionis oleh Theodor Hertzel (1860).
Dan ada fakta kasat mata bahwa “Trump Declaration” adalah pentas kedigdayaan. Sebaliknya, protes Palestina, negara di jazirah Arab, dan umat Islam adalah pentas ketidak berdayaan. Tapi toh dunia belum kiamat. Perlawanan itu tak akan padam dan terlalu kuat untuk dipadamkan oleh sebuah deklarasi.
Ratusan, ribuan, jutaan bahkan miliaran warga di dunia akan berteriak lantang “Wahai Presiden AS, kami tidak butuh petarung karena kami memiliki banyak petarung. Kami pun tidak terlalu memerlukan dana, karena kami punya cukup uang. Yang kami perlukan adalah komitmen dan dukungan kebijakan politik”. Jika ada sisi positif dari “Trump Declaration”, maka sebenarnya dia telah sukses menegakkan kesadaran yang selama bertahun-tahun tidur nyenyak, tak peduli.










