SUARAPENA.COM – Ato Suparto warga kecamatan jatisampurna Kota Bekasi mempertanyakan terkait keamanan pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur.
Ia menceritakan pada 23 Maret lalu dirinya dibawa oleh pihak keluarga untuk berobat ke RS Mitra Keluarga Cibubur.
Setibanya di RS Mitra Keluarga Cibubur dirinya langsung disambut oleh pihak RS untuk mengikuti protokol kesehatan Covid-19.
“Sampai disana kita langsung disuruh tes swab. Setelah menunggu 3 jam lebih, alhamdulillah hasilnya negatif,” ujar Ato saat ditemui awak media di kediamannya, Jatirangga, Kota Bekasi, Kamis (22/4/2021) malam.
Meski hasilnya negatif, namun Ato tetap harus diisolasi dan mengikuti tes PCR lagi. Karena memang harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat, akhirnya pihak keluarga mengiyakan untuk Ato diisolasi sambil menunggu hasil tes PCR keluar.
Sehari setelah di isolasi, akhirnya hasilnya pun keluar dan menyatakan positif Covid-19.
“Setelah menunggu 24 jam atau satu hari penuh diruang isolasi, keluar hasil PCR nya dan menyatakan saya positif Covid,” akunya.
Namun, setelah dinyatakan positif, kejadian tidak mengenakan pun kembali menimpa dirinya.
Pada saat menjalani isolasi, Handphone yang untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga hilang dicuri. “Hp saya hilang dicuri orang,” imbuhnya.
Sementara, Ketua Karang Taruna Kecamatan Jatisampurna Suryana yang juga merupakan anak dari Ato mengaku keesokan harinya mendapat telefon dari pihak RS.
Ia mengira pihak RS mengabarkan terkait perkembangan bapaknya. Namun, hal tak terduga malah yang didapatkannya.
“Kita (pihak keluarga) mendapat telefon dari RS mengabarkan bahwa handphone dari bapak (Ato) hilang dicuri orang,” ungkapnya.
Suryana sangat menyayangkan atas kejadian tersebut. Pasalnya, ia menilai RS Mitra Keluarga Cibubur itu dikategorikan elit. Artinya kata dia, keamanan dan profesionalitas pun pasti terjamin.
“Kita sangat kecewa, ya. Kita disini bayar mahal, tapi kok bisa sampai seperti ini. Padahalkan diruang isolasi itu steril, tidak ada yang bisa masuk kecuali perawat. Kok ini sampai bisa kebobolan dan menyebabkan orang lain masuk,” keluhnya.
Ia menambahkan, sebenarnya pihaknya tidak terlalu mempersoalkan terkait kehilangan handphone seluler milik bapaknya. Tapi, yang dipersoalkan adalah keamanan pasien.
“Kita tidak terlalu mempersoalkan kehilangan handphonenya, tapi kita mempersoalkan keamanan pasiennya.
Logikanya seperti ini, apabila ada pencuri masuk dan mengambil sesuatu disitu, dan pada saat itu pasien terbangun melihat aksi pencurian itu.
Karena pencuri panik, pencuri melakukan hal yang tidak diinginkan pada pasien sehingga menyebabkan trauma kepada pasien. Lantas, bagaimana pertanggungjawabnnya,” tanya dia.
Saat dikonfirmasi dan sampai berita ini dinaikan, pihak RS Mitra Keluarga Cibubur belum ada jawaban. (Bo)










