Scroll untuk baca artikel

KulturalNewsSuara Banten

Suku Baduy di Banten: Menjaga Tradisi Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

×

Suku Baduy di Banten: Menjaga Tradisi Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Menjaga tradisi di tengah arus modernisasi, mengenal kehidupan unik Suku Baduy di Banten.
Menjaga tradisi di tengah arus modernisasi, mengenal kehidupan unik Suku Baduy di Banten.

Suarapena.com, BANTEN – Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan modernisasi, Suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, tetap mempertahankan cara hidup tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berdiam di wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, masyarakat adat ini hidup menyatu dengan alam dan menjunjung tinggi aturan adat yang ketat.

Secara umum, Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam dikenal sebagai kelompok yang paling ketat dalam memegang adat istiadat. Mereka menolak penggunaan teknologi modern seperti listrik, kendaraan bermotor, maupun perangkat elektronik. Sementara itu, Baduy Luar cenderung lebih terbuka terhadap pengaruh luar, termasuk penggunaan fasilitas sederhana dan interaksi dengan masyarakat di luar wilayah adat.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Kehidupan masyarakat Baduy Dalam masih dijalankan secara sederhana. Aktivitas sehari-hari dilakukan tanpa bantuan teknologi modern, termasuk perjalanan jauh yang ditempuh dengan berjalan kaki. Hal ini merupakan bagian dari komitmen mereka dalam menjaga keselarasan dengan alam.

Berita Terkait:  Mengenal Perguruan Pencak Silat Satria Kendhali Murka

Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, masyarakat Baduy juga memiliki aturan ketat terkait penggunaan bahan kimia. Mereka dilarang menggunakan sabun dan detergen saat mandi atau mencuci di sungai. Seluruh aktivitas dilakukan dengan cara alami untuk menjaga kebersihan sumber air.

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah perjalanan kaki ke Jakarta untuk menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah. Ritual ini dilakukan secara berkala oleh perwakilan masyarakat Baduy Dalam dan dapat memakan waktu beberapa hari perjalanan.

Berita Terkait:  PNBK 2025 Digelar 7 Desember, Padukan Panggung Budaya dan Gerakan Solidaritas

Prinsip hidup selaras dengan alam juga tercermin dalam cara mereka membangun rumah dan bertani. Masyarakat Baduy tidak menggunakan bahan bangunan berbahan logam, melainkan memanfaatkan kayu dan ikatan ijuk sebagai pengganti paku.

Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar juga terlihat dari pakaian yang dikenakan. Baduy Dalam umumnya mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian dan ketaatan terhadap adat. Sementara itu, Baduy Luar menggunakan pakaian berwarna hitam atau biru tua sebagai bentuk penyesuaian terhadap lingkungan luar.

Hingga saat ini, Suku Baduy tetap menjadi salah satu komunitas adat di Indonesia yang konsisten menjaga tradisi di tengah perubahan zaman, dengan tetap mengedepankan nilai kesederhanaan, kemandirian, dan harmoni dengan alam. (sp/prk)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Berlangganan