Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, menilai persoalan aksesibilitas masih menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam pengembangan sektor pariwisata di Indonesia, khususnya di Lampung.
Menurut dia, berbagai destinasi wisata di daerah memiliki potensi besar, namun belum ditunjang akses yang memadai bagi wisatawan.
“Daerah-daerah yang sangat cantik dan objek wisata seperti di Lampung harus bisa diakses dengan mudah oleh wisatawan, baik dari bandara maupun dari pusat kota tanpa hambatan,” kata Putra dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).
Ia menekankan, peningkatan aksesibilitas pariwisata harus menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam hal ini, diperlukan sinergi lintas kementerian, terutama antara Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pekerjaan Umum, untuk menghadirkan infrastruktur yang mendukung kenyamanan wisatawan.
Putra menambahkan, pembangunan akses menuju destinasi wisata tidak dapat disamakan dengan jalur umum seperti jalan logistik atau kendaraan berat.
“Kalau disamakan, justru bisa menurunkan kenyamanan wisatawan. Infrastruktur wisata harus dirancang berbeda,” ujarnya.
Selain infrastruktur, politisi PDI Perjuangan itu juga menyoroti pentingnya respons cepat pemerintah dalam menangkap peluang sektor pariwisata.
Ia mencontohkan, Jakarta mampu menggerakkan perekonomian melalui berbagai agenda musiman seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran yang menghasilkan perputaran ekonomi besar.
“Terobosan seperti itu harus dilakukan karena dampaknya langsung terasa bagi wisatawan dan ekonomi,” kata dia.
Di sisi lain, Putra mengungkapkan dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, turut memengaruhi sektor pariwisata nasional. Salah satu dampaknya adalah penurunan jumlah wisatawan asal Eropa.
Padahal, wisatawan dari kawasan tersebut dikenal memiliki masa tinggal lebih lama dan tingkat pengeluaran yang relatif tinggi.
Untuk mengatasi hal itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan insentif seperti kemudahan visa, termasuk opsi bebas visa bagi negara tertentu.
Menurut dia, wisatawan internasional umumnya mengutamakan kemudahan tanpa birokrasi yang rumit serta sensitif terhadap biaya perjalanan.
“Kalau kita bisa memberikan kenyamanan dan kemudahan, itu akan menjadi solusi yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Putra menegaskan, di tengah keterbatasan pemasukan negara dan ketidakpastian global, sektor pariwisata harus dioptimalkan melalui langkah cepat dan koordinasi yang solid dari pemerintah. (r5/um)










