Scroll untuk baca artikel

NewsSuara Jogja

Dari Lereng Menoreh, Kopi Trajumas Bangkitkan Sejarah, Sejahterakan Petani Desa

×

Dari Lereng Menoreh, Kopi Trajumas Bangkitkan Sejarah, Sejahterakan Petani Desa

Sebarkan artikel ini
Dari batang kopi tua yang nyaris terlupakan, anak muda Pagerharjo menghidupkan kembali kopi rakyat warisan sejarah kolonial Belanda. Kini, secangkir kopi menjadi jalan memperkuat ekonomi lokal dan menumbuhkan gotong royong.
Dari batang kopi tua yang nyaris terlupakan, anak muda Pagerharjo menghidupkan kembali kopi rakyat warisan sejarah kolonial Belanda. Kini, secangkir kopi menjadi jalan memperkuat ekonomi lokal dan menumbuhkan gotong royong.

Suarapena.com, YOGYAKARTA – Pegunungan Menoreh menyimpan lebih dari sekadar bentang alam hijau di barat Yogyakarta. Dari kawasan perbukitan inilah Kopi Trajumas lahir, berangkat dari kesadaran sejarah dan semangat anak muda desa untuk menghidupkan kembali kopi rakyat sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani.

Trajumas, singkatan dari Timbangan Emas, menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Kopi ini digagas Agustinus Sulistyo—akrab disapa Tio—pemuda Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, yang memilih pulang setelah hampir satu dekade merantau. Bersama rekan-rekannya, ia memulai riset sederhana pada November 2019, dan menemukan bahwa batang kopi yang selama ini menjadi pagar bambu ternyata masih berbuah.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Temuan itu membuka mata mereka. Penelusuran sejarah mengungkap bahwa kopi telah tumbuh di Menoreh sejak era tanam paksa kolonial Belanda, kala itu dikenal sebagai kopi Londo. Kesadaran ini menegaskan bahwa kopi bukan sekadar tanaman, tetapi bagian dari identitas dan warisan budaya lokal.

Pada 2021, gerakan itu dijadikan aksi nyata. Secara swadaya, masyarakat menanam sekitar 12.000 batang kopi. Dukungan datang dari Kalurahan Pagerharjo melalui pembentukan Kelompok Tani Tarunatani Asta Brata, wadah formal pengembangan kopi rakyat. Pemerintah DIY melalui Paniradya Keistimewaan juga memberi dukungan sesuai kebijakan Satuan Ruang Strategis Keistimewaan (SRSK). Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan menyediakan pupuk dan 7.800 bibit kopi, mempercepat produktivitas tanaman.

Berita Terkait:  Bagikan Kopi Gratis Saat Malam Tahun Baru, Cara Polisi Jepara Dekat Masyarakat

Pada 2025, dukungan diperluas dengan tambahan 20.000 bibit kopi serta pembangunan rumah produksi kopi. Sri Herdani, pengelola Trajumas Java Coffee, menjelaskan, “Kopi Trajumas tumbuh dari riset dan kesadaran sejarah. Kami mengembalikan kopi pada kulturnya. Dari pertanian, pascapanen, pengolahan hingga penyajian, semua melibatkan masyarakat.”

Saat ini, Kelompok Tani Asta Brata mengelola kopi Arabika dan Robusta. Robusta menjadi produk unggulan karena kesesuaian wilayah Menoreh. Proses produksi melibatkan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal), mulai dari pengupasan, penjemuran, roasting, hingga penyajian. Bantuan Dana Keistimewaan telah terbukti meningkatkan produktivitas sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Secara ekonomi, satu pohon kopi dapat menghasilkan 10–11 kilogram per tahun. Petani yang menanam sekitar 2.000 batang berpotensi memperoleh pendapatan hingga Rp120 juta per tahun atau sekitar Rp10 juta per bulan. Sejak 2019, 123 petani telah merasakan manfaat langsung dari Kopi Trajumas, baik dari sisi penghasilan maupun keterlibatan dalam sektor pengolahan dan pengemasan.

Berita Terkait:  Ratusan Hektar Kebun Kopi Rusak, Warga Tiga Desa Datangi DPRD

“Lebih dari sekadar komoditas, Kopi Trajumas menjadi jalan menuju Sugih Bareng atau kaya bersama. Ke depan, budidaya kopi juga akan terintegrasi dengan wisata alam dan budaya Pegunungan Menoreh. Gotong royong dan pemberdayaan masyarakat menjadi prinsip utama,” tutur Sri Herdani, Sabtu (7/2/2026).

Lurah Pagerharjo, Widayat, menilai semangat anak muda sebagai modal utama pengembangan kopi rakyat. “Ketika kemauan sudah ada, pemerintah hadir membuka jalan dan memberi dukungan. Kondisi geografis sangat mendukung, masyarakat juga mayoritas petani. Potensi kopi ini besar, baik dari sisi pertanian maupun wisata. Kami menyiapkan lahan dan mendorong perubahan pola pikir agar kopi menjadi komoditas andalan Pagerharjo,” ujarnya.

Dari lereng Menoreh, Kopi Trajumas membuktikan bahwa Dana Keistimewaan tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga menumbuhkan harapan dan kesejahteraan. Setetes demi setetes, dari secangkir kopi rakyat, sejarah, alam, dan ekonomi desa berpadu, menegaskan bahwa warisan lokal bisa menjadi jalan kemakmuran masa kini. (sp/fn)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca