Suarapena.com, JEPARA – Di tengah fluktuasi harga ternak dan tekanan biaya produksi, peternakan kambing Jawa Randu di Desa Plajan dan Suwawal Timur, Kabupaten Jepara, terbukti menjadi penopang ekonomi warga desa. Dari usaha berbasis kelompok ini, ratusan ekor kambing mampu menciptakan perputaran ekonomi, memperkuat kas kelompok, sekaligus menjaga keberlanjutan pendapatan peternak kecil.
Ketua Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Hadi Purnomo menyebut, meski harga kambing tengah melemah, sistem pengelolaan kolektif membuat usaha peternakan tetap berjalan. Setiap anggota memelihara dua indukan, sementara hasil anakan sebagian disisihkan sebagai aset kelompok.
“Harga anak kambing jantan usia empat bulan sekarang sekitar Rp1,5 juta, betina di bawah Rp500 ribu. Tapi dengan sistem kelompok, kami masih bisa menjaga arus kas,” ujar Hadi, Sabtu (31/1/2026).
Efisiensi biaya menjadi kunci. Pakan diperoleh dari penggembalaan dan hijauan lokal, sementara limbah ternak diolah menjadi pupuk organik. Setiap anggota wajib menyetor satu sak limbah per bulan untuk kas pupuk kelompok, sehingga biaya pertanian dapat ditekan dan nilai tambah tetap berputar di desa.
Di Desa Suwawal Timur, KTT Ayo Maju 2 mengelola 332 ekor kambing Jawa Randu dengan kas kelompok mencapai Rp6 juta. Ketua kelompok, Komari, menyatakan, penguasaan teknik silase dan perawatan kesehatan ternak berperan besar dalam menekan risiko kematian dan kerugian.
“Saat harga anjlok, kami alihkan penjualan lewat pemasaran online karena sudah ada pengepul tetap,” kata Komari.
Strategi diversifikasi pemasaran tersebut membantu peternak menghindari ketergantungan pada pasar lokal semata. Selain itu, limbah ternak difermentasi menggunakan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari untuk menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan langsung di sawah anggota, sehingga menekan biaya produksi pertanian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, menyampaikan bahwa peternakan rakyat memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi pedesaan. Pembinaan dilakukan dari sisi kelembagaan, teknis budidaya, hingga pascapanen guna meningkatkan efisiensi dan daya saing peternak.
“Standar teknis diterapkan agar produktivitas meningkat dan risiko usaha bisa ditekan. Ini penting agar peternak kecil tetap bertahan,” ujarnya.
Menurut Mudhofir, meski skala kandang relatif kecil, akumulasi produksi dari ratusan ekor ternak mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata. Dari kandang rakyat di Plajan dan Suwawal Timur, ekonomi desa bergerak—menjadi bukti bahwa peternakan berbasis kelompok dapat menjadi bantalan ekonomi saat sektor lain melemah. (sp/pr)










