Suarapena.com, BANDUNG – Kesehatan mental anak dan remaja tidak terlepas dari lingkungan keluarga. Kemampuan orang tua dalam mengenali, memahami, dan memvalidasi emosi anak sejak dini dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membantu mereka menghadapi tekanan psikologis hingga dewasa.
Psikolog Puskesmas Cipadung, Delis Larasaty Putri, mengatakan persoalan yang dihadapi pasien dalam layanan psikologis klinis cukup beragam. Masalah rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemui, disusul berbagai permasalahan pada anak dan remaja.
Menurut Delis, persoalan pada anak umumnya berkaitan dengan tumbuh kembang. Sementara itu, remaja menghadapi tantangan yang lebih kompleks, terutama dalam proses pencarian jati diri dan menghadapi pengaruh lingkungan pergaulan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Delis menekankan pentingnya peran orang tua dalam membantu anak mengenali dan memahami emosinya. Sebab, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar memahami perasaan, membangun hubungan, dan mengembangkan kemampuan mengelola emosi.
“Guru pertama kita adalah orang tua,” ujar Delis, Sabtu (17/10/2026).
Delis menjelaskan, memvalidasi emosi anak bukan berarti orang tua harus membenarkan semua tindakan yang dilakukan anak. Validasi merupakan upaya memahami perasaan anak terlebih dahulu, sebelum membimbingnya mengenali dan mengelola emosi secara tepat.
Misalnya, ketika anak menangis karena mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, orang tua dapat menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anak terhadap kejadian tersebut.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa perasaannya dapat diungkapkan dan dibicarakan secara terbuka. Anak pun memiliki kesempatan untuk belajar mengenali emosi yang muncul tanpa merasa diabaikan atau disalahkan.
Sebaliknya, ketika perasaan anak langsung dianggap sepele atau diminta untuk segera berhenti, anak berpotensi mengalami kesulitan dalam memahami dan mengungkapkan emosinya. Jika berlangsung terus-menerus, kesulitan tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang menghadapi persoalan maupun menjalin hubungan dengan orang lain.
Delis juga menyoroti bahwa persoalan kesehatan mental remaja tidak bisa dilepaskan dari kondisi keluarga dan lingkungan sosial. Dalam sejumlah kasus yang ditemuinya, remaja harus menghadapi persoalan keluarga, termasuk perceraian orang tua, ketika kemampuan mereka dalam mengelola tekanan emosional belum berkembang secara optimal.
Situasi tersebut dapat menjadi semakin berat apabila remaja tidak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan perasaan dan memperoleh dukungan dari orang-orang terdekat.
“Kalau dari rumah saja sudah tidak memvalidasi emosinya, dia akan bingung,” katanya.
Karena itu, Delis mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Sikap mudah marah, kecemasan, kecenderungan menarik diri, maupun perubahan perilaku lainnya perlu disikapi dengan komunikasi terbuka.
Orang tua diharapkan tidak terburu-buru menghakimi atau menyimpulkan perilaku anak, tetapi berusaha memahami kondisi yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, persoalan yang dialami anak dapat diketahui lebih awal dan memperoleh penanganan yang sesuai apabila diperlukan.
Selain dukungan keluarga, akses terhadap layanan profesional juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan mental masyarakat.
Dalam pelayanan psikologis klinis di Puskesmas Cipadung, pasien terlebih dahulu menjalani skrining untuk mengetahui kondisi yang sedang dialami. Selanjutnya, psikolog menggali pengalaman, perasaan, dan persoalan pasien melalui konsultasi lebih mendalam.
Delis menyebut, sebagian pasien datang dengan persoalan yang telah dirasakan selama satu hingga dua tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Layanan psikologis klinis tersedia di Puskesmas Cipadung dan 11 puskesmas lainnya yang tersebar di Kota Bandung. Keberadaan layanan tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat memperoleh pendampingan profesional sesuai kebutuhan.
Edukasi mengenai kesehatan mental juga terus diperluas melalui sekolah dan berbagai kegiatan di masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang kesehatan jiwa sekaligus mendorong keluarga dan lingkungan sekitar menjadi ruang yang lebih aman bagi anak dan remaja untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Dengan membangun komunikasi yang terbuka sejak dini, orang tua diharapkan dapat membantu anak mengenali emosinya, menghadapi tekanan dengan lebih baik, dan tumbuh dengan kemampuan mengelola perasaan secara sehat. (sp/ziz)







