Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI, GM Totok Hedi Santosa, menyoroti sejumlah persoalan krusial terkait kesiapan sektor energi, infrastruktur, dan mitigasi bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal itu disampaikan dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR ke Yogyakarta, Kamis (11/12/2025), menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang diprediksi meningkatkan mobilitas masyarakat secara signifikan.
Totok menyatakan, salah satu isu yang perlu mendapat perhatian serius adalah keterlambatan distribusi BBM, yang dinilainya masih kerap terjadi di sejumlah wilayah. Ia mencontohkan kemacetan panjang di Tol Jakarta–Cikampek KM 57, yang dipicu keterlambatan suplai BBM hingga 6,5 jam.
“Di Tol Jawa, di KM 57 Karawang, ada kemacetan karena suplai bahan bakarnya datang 6,5 jam kemudian. Ini menjadi penanda. Apalagi untuk Natal dan Tahun Baru. Jika kinerjanya kurang baik, kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap lalu lintas,” ujarnya.
Menurut Totok, perlambatan distribusi energi tidak hanya berdampak pada pergerakan kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi logistik, termasuk bahan pangan. Kendati demikian, ia tetap optimistis karena para pemangku kepentingan telah menyampaikan berbagai langkah persiapan yang tengah dilakukan menghadapi puncak arus libur akhir tahun.
Dalam pertemuan itu, Totok juga menyoroti kondisi infrastruktur di Yogyakarta yang dinilai masih tertinggal. Kondisi ini, menurut dia, menyebabkan kemacetan tidak hanya saat libur besar, tetapi juga pada akhir pekan atau masa libur singkat.
“Infrastruktur di Jogja ini kalau boleh dibilang dimulai agak terlambat. Jogja itu tidak perlu menunggu Natal, Tahun Baru, atau Lebaran. Hari Sabtu, Minggu, atau long weekend saja sudah pasti macet. Jika infrastrukturnya dibangun dengan baik, saya kira bisa membantu mengurai kemacetan,” tutur Totok.
Ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur untuk mengimbangi pertumbuhan mobilitas dan pariwisata di DIY yang setiap tahun meningkat.
Selain itu, Totok mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi bencana alam. DIY merupakan salah satu wilayah dengan risiko tinggi bencana, mulai dari gempa bumi hingga erupsi Gunung Merapi.
Totok menjelaskan bahwa sejak satu dekade lalu ia telah mendorong pemerintah daerah menyiapkan anggaran khusus kebencanaan, agar penanganan darurat bisa dilakukan secara cepat dan efektif. Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang kini telah menyediakan alokasi rutin untuk kebutuhan tersebut.
“Dulu, ketika ada bencana, semua ribut rapat karena tidak dianggarkan. Hari ini, penganggaran seperti itu sudah tersedia. Persiapannya memang tidak selalu sempurna, tetapi ini sangat membantu,” katanya.
Totok berharap seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat daerah maupun pusat, dapat terus meningkatkan koordinasi dan kesiapan sehingga pelayanan publik dan keamanan masyarakat selama masa libur Nataru dapat terjaga dengan optimal. (r5/aha)










