Diakuinya, ada sedikit kesulitan untuk bisa mengajak orang yang biasa hidup dijalanan untuk mengaji. Kendati demikian, semangatnya untuk berdakwah menyampaikan ilmu membuatnya tetap semangat.
“Susah banget, kita harus fleksibel. Jadi kalau waktunya ngaji ya ngaji, waktunya santai ya santai,” imbuhnya.
Ketika masih baru mulai menjalankan majelis ta’lim suasana berbeda sangat dirasakan. Tidak sedikit diantara anak jalanan yang hadir untuk ikut menimba ilmu baca Alquran, datang dengan nafas berbau minuman keras. Meski demikian, pihaknya tidak bisa frontal melakukan pelarangan agar berhenti meminum minuman keras. Cara yang dipakai adalah dengan cara persuasif, memberikan pemahan melalui ilmu yang disampaikan.
“Kita disini mengajarkan baca iqra, dan diselingi kitab kuning. Disini di Saung Zawiyah,” pungkasnya. (sng/sp)










