“Dulu wilayah ini ya kebun saja. Kemudian mulai kita eksplorasi dan kita ubah menjadi desa wisata yang memiliki multiplier effect, mulai dari jualan, karyawan pemandu dan lainnya. Yang terlibat dalam D’Las (Di Lembah Asri) mencapai 1.000 orang dari desa,” urainya.
Sugito mengatakan, saat merintis Desa Wisata mulanya berawal dari modal Rp9 juta dan tanah kas desa yang hanya 1,3 hektare. Kini, setelah 12 tahun berjuang Desa Wisata Serang dengan wisata unggulan D’Las memiliki aset seluas 22 hektare.
Dikatakan Sugito lahan seluas itu disewa dari warga selama 20 tahun.
“Awalnya kita punya tanah desa seluas 1,3 hektare sekarang dengan 22 hektare asetnya bernilai Rp21 miliar. Pengembangan ditopang dari dana desa, yang kita prioritaskan untuk ekonomi produktif,” pungkasnya. (Pd/Ul)










