Suarapena.com, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkirakan produksi padi di wilayahnya pada 2026 meningkat hingga 5,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan produksi padi pada 2025 mencapai 11,36 juta ton gabah kering panen (GKP) atau setara 9,38 juta ton gabah kering giling (GKG).
“Produksi itu kami perkirakan bisa meningkat 5,5 persen pada tahun ini,” ujar Defransisco, Kamis (8/1/2026).
Menurut Defransisco, Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penyangga pangan nasional dengan kontribusi terhadap kebutuhan pangan nasional mencapai 15 hingga 16 persen.
“Apa yang disampaikan Pak Presiden tadi capaiannya jelas, kontribusi kita sampai 15 persen. Bahkan bisa lebih,” katanya.
Ia menambahkan, produksi padi pada 2026 ditargetkan mencapai 12 juta ton GKP. Jika tercapai, produksi Jawa Tengah diperkirakan dapat melampaui Jawa Barat dan Jawa Timur.
Selain padi, sembilan komoditas pangan utama di Jawa Tengah juga mengalami surplus, kecuali kedelai. Komoditas pangan yang menjadi indikator utama meliputi padi, jagung, cabai, bawang, tebu, kelapa, kopi, kakao, dan kedelai.
“Produksi kedelai memang tidak surplus karena merupakan komoditas yang sulit dikembangkan. Kedelai memerlukan kondisi khusus, antara lain tidak terlalu banyak air, tetapi juga tidak boleh kekurangan air. Pendampingan bagi petani yang belum berpengalaman tetap diperlukan,” kata Defransisco.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur pertanian dan penguatan kelembagaan petani.
“Kami ingin petani lebih sejahtera dan masyarakat dapat menikmati hasil pertanian dengan harga yang wajar. Ketahanan pangan tidak bisa dijaga tanpa kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan petani,” ujar Taj Yasin. (sp/pr)










