Suarapena.com, KLATEN – Pembangunan Jembatan Dengkeng di Kecamatan Cawas, Klaten, mencapai 60 persen hingga 19 Oktober 2026, melampaui target 59 persen. Proyek senilai Rp 20,62 miliar ini dipercepat untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar akses Jawa Tengah–DIY, dan mendorong ekonomi warga.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Jawa Tengah, Temmy Purboyono, mengatakan percepatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Ahmad Luthfi agar infrastruktur segera dimanfaatkan masyarakat.
“Ini merupakan perintah dari Bapak Gubernur supaya pembangunan dipercepat, sehingga bisa segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Temmy, mewakili Kepala Dinas PUPR Jateng Henggar Budi Anggoro, Selasa (20/10/2026).
Jembatan di ruas Karangwuni–Cawas–batas DIY ini dibangun sepanjang 40 meter dan lebar 7,5 meter, dilengkapi trotoar di kedua sisi.
Temmy menjelaskan, jembatan lama yang berusia sekitar 40 tahun diganti karena kondisinya tidak lagi memadai. Jembatan baru juga ditinggikan sekitar dua meter untuk mengurangi risiko gangguan saat Sungai Dengkeng meluap.
“Jembatan yang lama terkadang tidak terlihat ketika air melimpah saat Sungai Dengkeng meluap. Sekarang ditinggikan dua meter, sehingga saat terjadi banjir jembatan masih tetap terlihat, dan masyarakat lebih aman melintasinya,” ujarnya.
Proyek dengan masa kontrak 25 Juni–21 Desember 2026 itu ditargetkan rampung tujuh hingga 10 hari lebih awal.
“Kami berharap pekerjaan ini bisa selesai lebih awal, mungkin sekitar satu minggu hingga 10 hari sebelum batas waktu kontrak, sehingga nantinya dapat diresmikan oleh Bapak Gubernur Jawa Tengah,” kata Temmy.
Kepala Desa Plosowangi, Danang Mahendra, mengatakan Jembatan Dengkeng menjadi jalur penting bagi warga Cawas dan sekitarnya, termasuk menuju kawasan wisata Gunungkidul, DIY. Arus kendaraan meningkat terutama pada akhir pekan dan hari libur.
“Dengan jembatan ini segera selesai, akses transportasi akan semakin lancar dan perekonomian masyarakat, khususnya di Desa Plosowangi, diharapkan kembali meningkat,” ujarnya.
Selain bertani, warga Plosowangi mengembangkan UMKM, seperti rambak kulit sapi, abon, dan aneka produk olahan. Akses yang lancar diharapkan mendorong wisatawan singgah dan membeli produk lokal.
Danang menjelaskan, tiang di tengah jembatan lama kerap menghambat aliran air dan menjadi tempat tersangkutnya sampah. Kondisi tersebut berpotensi memperparah luapan Sungai Dengkeng.
Jembatan baru dibangun tanpa tiang di tengah aliran sungai agar air mengalir lebih lancar. Upaya ini didukung normalisasi sungai oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan pembenahan infrastruktur pengendali air di sekitar lokasi.
Warga setempat, Ragil, berharap pembangunan segera selesai agar mobilitas masyarakat kembali lancar, baik untuk bekerja, berbelanja ke pasar, maupun bepergian ke Yogyakarta.
“Kami sebagai warga Cawas dan sekitarnya mengucapkan terima kasih. Semoga dengan adanya jembatan ini, perjalanan dari berbagai arah tetap lancar dan ke depan tidak terjadi banjir yang mengganggu aktivitas masyarakat,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan pekerjaan masih berlangsung. Pengecoran lantai jembatan akan segera dilakukan, sementara pekerja terus beraktivitas hingga malam hari. Selama pembangunan, pengguna jalan memanfaatkan jalan kampung sebagai jalur alternatif.
Jembatan Dengkeng diharapkan segera rampung untuk memperkuat konektivitas Jawa Tengah–DIY, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. (sp/pr)







