Suarapena.com, JAKARTA – Kehadiran Ketua DPR RI, Puan Maharani, di Gedung Nusantara hari ini, menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR–DPD RI tahun 2025. Tak hanya perannya sebagai pimpinan lembaga legislatif, penampilan Puan pun mencuri perhatian khalayak yang hadir.
Dengan anggun, Puan mengenakan kebaya berwarna hijau lime yang dipadu selendang merah menyala, memancarkan kesan elegan sekaligus sarat makna. Penampilannya dilengkapi dengan bawahan batik motif Bunga Hokokai berlatar motif parang, yang menggambarkan kekayaan sejarah budaya Indonesia—terutama masa penjajahan Jepang.
Pilihan busana ini bukan sekadar estetika. Selendang merah yang dikenakan Puan melambangkan semangat perjuangan melawan penjajahan, sangat relevan dengan suasana sidang yang digelar menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Sementara, batik tulis Pekalongan berbahan sutra ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang ia kenakan mempertegas kecintaan terhadap warisan budaya Tanah Air.
Puan tiba di lokasi sekitar pukul 08.20 WIB dengan mobil taktis Maung, simbol kekuatan dan ketegasan, yang sekaligus menegaskan kehadirannya sebagai pemimpin yang siap menyuarakan aspirasi rakyat.
Dalam momen tersebut, ia juga sempat terlihat berbincang hangat dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang datang sebagai salah satu tamu undangan. Keduanya kemudian memasuki ruang sidang bersama.
Sidang tahunan dan sidang bersama ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting negara, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto beserta jajaran kabinetnya, serta para mantan presiden dan wakil presiden, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Boediono, Ma’ruf Amin, hingga Try Sutrisno. Tokoh politik dan pejabat lainnya yang hadir antara lain Menteri BUMN Erick Thohir, Mensesneg Prasetyo Hadi, Ketum NasDem Surya Paloh, dan sejumlah nama besar lainnya.
Dengan balutan busana penuh simbol dan kehadiran para tokoh penting bangsa, Sidang Tahunan MPR 2025 tak hanya menjadi agenda politik tahunan, tetapi juga panggung kebudayaan dan refleksi kebangsaan menjelang usia satu abad Indonesia merdeka. (r5/sp)










