Suarapena.com, JAKARTA – Singkawang, kota yang terletak di Kalimantan Barat, dikenal sebagai kota yang memiliki keberagaman budaya dan agama yang luar biasa.
Kota ini juga menjadi tujuan wisata yang menawarkan berbagai daya tarik, mulai dari perayaan Cap Go Meh yang meriah, hingga bangunan-bangunan bersejarah yang menawan.
Cap Go Meh, yang merupakan puncak perayaan Tahun Baru Imlek, adalah salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Singkawang, khususnya etnis Tionghoa yang merupakan mayoritas penduduk di sana.
Festival ini diadakan setiap tahun pada hari ke-15 setelah Imlek, dan menampilkan berbagai atraksi budaya, seperti pawai lampion, tarian barongsai, dan ritual tatung.
Tatung adalah orang-orang yang dipercaya dapat menjadi perantara antara manusia dan dewa. Mereka melakukan berbagai aksi ekstrem, seperti menusuk tubuh dengan senjata tajam, mengangkat beban berat, atau berjalan di atas api, tanpa menunjukkan rasa sakit.
Tujuan mereka adalah untuk membersihkan kota dari roh-roh jahat, dan memberkati masyarakat Singkawang agar sejahtera sepanjang tahun.
Selain Cap Go Meh, Singkawang juga memiliki banyak tempat wisata yang menarik, seperti Wihara Tri Dharma Bumi Raya, yang merupakan wihara tertua dan terbesar di Singkawang.
Wihara ini berseberangan dengan Masjid Raya Singkawang, yang juga merupakan masjid terbesar di kota ini. Kedekatan antara tempat ibadah dua agama yang berbeda ini menunjukkan toleransi dan kerukunan yang tinggi di antara masyarakat Singkawang.
Bahkan, pada tahun 2018, Singkawang dinobatkan sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia oleh Setara Institute, sebuah lembaga yang mengadvokasi hak asasi manusia.
Penghargaan ini diberikan karena Singkawang mampu menjaga harmoni di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
Selain etnis Tionghoa, Singkawang juga dihuni oleh suku Melayu, Dayak, Jawa, Madura, dan lain-lain.
Salah satu simbol keberagaman Singkawang adalah patung naga yang berada di persimpangan Jalan Kepol Mahmud dan Jalan Niaga. Patung ini dibuat menghadap ke atas, bukan ke samping, karena kepercayaan masyarakat setempat bahwa toko yang berhadapan dengan naga akan mengalami nasib sial.
Patung naga ini melambangkan kekuatan dan keberuntungan bagi warga Singkawang.
Singkawang juga memiliki banyak bangunan bersejarah yang menjadi cagar budaya, seperti Rumah Marga Tjhia, yang merupakan rumah tertua milik keturunan Tionghoa di Singkawang.
Rumah ini dibangun pada tahun 1901, oleh Tjhia Siu Si, yang merupakan keturunan langsung dari Xie Shou Shi, seorang pejabat dari Dinasti Ming yang melarikan diri ke Indonesia pada abad ke-17.
Rumah ini memiliki gaya arsitektur yang khas, yaitu perpaduan antara timur dan barat, dengan struktur yang sebagian besar terbuat dari kayu besi (belian), yang merupakan kayu terkuat di dunia.
Rumah ini juga memiliki banyak ornamen dan ukiran yang indah, yang menunjukkan kemakmuran dan kebudayaan pemiliknya.
Singkawang juga dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng, karena memiliki banyak tempat ibadah umat Buddha yang tersebar di seluruh kota.
Menurut data tahun 2014, ada sekitar 704 klenteng, wihara, dan cetiya yang ada di Singkawang. Salah satu yang terkenal adalah Klenteng Tua Pek Kong, yang merupakan klenteng tertua di Kalimantan.
Singkawang dulunya adalah sebuah desa yang masuk wilayah Kesultanan Sambas. Namun, sejak kedatangan para pedagang dan penambang emas dari Tionghoa, desa ini berkembang menjadi sebuah kota yang ramai dan maju.
Nama Singkawang sendiri berasal dari kata San Kew Jong, yang dalam bahasa Hokkian berarti kota di kaki gunung, tapi dekat dengan muara laut.
Singkawang memiliki banyak julukan, seperti Kota Amoi, yang merujuk pada wanita-wanita cantik yang berasal dari kota ini, Kota Seribu Kelenteng, yang merujuk pada banyaknya tempat ibadah umat Buddha di kota ini, dan Hong Kong van Borneo, yang merujuk pada kemiripan antara Singkawang dan Hong Kong, baik dari segi budaya, ekonomi, maupun geografis.
Singkawang, kota yang penuh pesona dan toleransi, adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh para pecinta budaya dan sejarah.
Kota ini menawarkan pengalaman yang berbeda dan berkesan bagi setiap pengunjungnya. Singkawang, kota yang tak pernah membosankan. (sp/prk)










