Suarapena.com, JAKARTA – Subaru Jepang (7270.T) sedang bekerja sama dengan pemasok untuk mengurangi risiko yang terkait dengan pengadaan bahan yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik, kata CEO-nya pada hari Rabu, saat produsen mobil berjuang dengan langkah China untuk mengekang ekspor grafit.
China, produsen dan pengekspor terbesar di dunia untuk bahan penting yang digunakan dalam baterai EV, akan memerlukan izin ekspor mulai 1 Desember untuk beberapa produk grafit, sebuah regulasi yang menurut para ahli dapat mendorong produsen mobil untuk mengembangkan sumber dan bahan alternatif.
“Ada risiko yang terlibat dalam setiap jenis bahan, tidak hanya grafit. Kami ingin mendapatkan sumber daya sambil mempertimbangkan berbagai lindung nilai risiko,” kata CEO Atsushi Osaki kepada wartawan di sela acara Japan Mobility Show, yang dibuka untuk pers pada hari Rabu, sehari sebelum pembukaan resminya.
“Kami bekerja sama dengan pemasok untuk menyusun langkah-langkah untuk mengatasi risiko tersebut,” katanya, seperti dikutip dari Reuters.
Langkah China juga bisa meningkatkan sengketa perdagangan secara global dan menyoroti pentingnya bagi produsen mobil dalam mengurangi ketergantungan sumber daya mereka pada ekonomi terbesar kedua di dunia. (sng)










