Suarapena.com, SEMARANG – Ratusan penari bergerak serempak di tengah gemerlap cahaya Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026) malam.
Di hadapan ribuan penonton, mereka tak sekadar menampilkan koreografi. Lewat pertunjukan kolosal bertajuk “Jejak Langit di Atas Tanah Jawa”, para penari mengajak penonton menelusuri perjalanan panjang hadirnya Islam di tanah Jawa.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu sajian utama dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026.
Kisah perjalanan sejarah itu dirangkai melalui perpaduan tari, musik, cahaya, serta simbol-simbol budaya Jawa dan Tionghoa. Dari kejayaan Majapahit, kedatangan Cheng Ho, geliat perdagangan, hingga kemunculan Sunan Kalijaga sebagai simbol pencerahan.
Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS Unnes, Eny Kusumastuti, mengatakan pertunjukan tersebut sengaja dirancang untuk menggambarkan perjalanan penyebaran Islam dengan menggunakan simbol sejarah dan kebudayaan Jawa.
“Kali ini kami menampilkan dengan judul Jejak Langit di Atas Tanah Jawa,” kata Eny.
Pertunjukan diawali dengan gambaran kehidupan masyarakat pada masa Majapahit. Sosok Brawijaya hadir sebagai simbol, sementara suasana masyarakat digambarkan dalam kondisi gemah ripah loh jinawi.
Dari situ, cerita bergerak menuju perubahan zaman. Hadir sosok Cheng Ho, aktivitas perdagangan, dan dinamika kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Jawa.
Suasana kemudian berubah ketika muncul Sunan Kalijaga.
Sosok tersebut ditempatkan sebagai simbol pencerahan setelah sebelumnya digambarkan adanya keresahan di tengah masyarakat.
“Sedikit ada kerisauan di masyarakat, kemudian munculah pencerahan dari Sunan Kalijaga, jadi munculnya agama Islam di wilayah Semarang,” ujar Eny.
Pesan tersebut diperkuat dengan permainan cahaya. Lentera yang semula menghadirkan suasana gelap perlahan berubah menjadi terang.
Kontras gelap dan terang itu menjadi simbol pertarungan antara keburukan dan kebaikan, sekaligus menggambarkan Islam sebagai cahaya yang membawa pencerahan.
“Kami ingin menggambarkan bahwa dalam MTQ ini ada kaitannya dengan penyebaran agama Islam, kemudian ada sedikit bahwa terang-gelap, ada kebaikan dan kejahatan,” tuturnya.
Pada salah satu adegan, cahaya lentera bahkan disusun membentuk lafal Allah SWT.
Bagi Eny, simbol tersebut menjadi pesan utama pertunjukan: Islam hadir sebagai cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat di tanah Jawa.
“Cahaya terang itu menyinari tanah Jawa ini, bahwa agama Islam memberikan pencerahan di wilayah Jawa,” ungkapnya.
Tak hanya sejarah Islam, pertunjukan tersebut juga membawa penonton melihat wajah Semarang sebagai kota yang sejak dahulu menjadi titik pertemuan berbagai budaya.
Sosok kapal Cheng Ho menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan.
“Kita merepresentasikan ada kapal Cheng Ho, karena wilayah Semarang terkenal sekali hadirnya kapal Cheng Ho,” kata Eny.
Kehadiran Cheng Ho kemudian diperkaya dengan unsur budaya Tionghoa dan Jawa.
Kipas, barongsai, dan liong tampil berdampingan dengan karakter budaya Jawa seperti bedhaya. Kehidupan masyarakat juga direpresentasikan melalui gambaran para petani.
Perpaduan itu menggambarkan proses akulturasi yang membentuk identitas budaya Semarang hingga saat ini.
“Pertemuan berbagai unsur tersebut menunjukkan bagaimana budaya Tionghoa dan Jawa berinteraksi dan membentuk kekayaan budaya Semarang,” ujar Eny.
Pertunjukan kolosal tersebut melibatkan 300 penari.
Sebanyak 281 penari merupakan mahasiswa Pendidikan Sendratasik FBS Unnes, sedangkan 19 lainnya berasal dari ISI Surakarta.
Kolaborasi dua perguruan tinggi seni itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan pertunjukan pembuka MTQ Nasional XXXI yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga kuat dari sisi pesan dan budaya.
Menariknya, persiapan pertunjukan dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Para penari mulai berproses sejak 8 Agustus 2026. Hingga hari pembukaan, mereka tercatat menjalani sekitar 20 kali latihan.
“Durasinya sangat cepat sekali, kami berproses mulai tanggal 8 Agustus, kemudian hari ini kita selesai, 20 kali latihan,” tutur Eny.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI di Simpang Lima Semarang.
Selain “Jejak Langit di Atas Tanah Jawa”, pembukaan juga dimeriahkan tari Saman, penyerahan penghargaan Rekor MURI untuk aksi menyanyikan Mars MTQ secara bersama-sama, serta penampilan penyanyi religi Opick.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan MTQ Nasional XXXI di Semarang memiliki makna lebih luas daripada sekadar kompetisi membaca dan menghafalkan Al-Qur’an.
Menurut dia, perhelatan yang mempertemukan kafilah dari 38 provinsi itu juga menjadi ruang untuk memperkuat persatuan masyarakat Indonesia.
MTQ Nasional XXXI menjadi istimewa karena merupakan MTQ nasional yang kembali digelar di Pulau Jawa setelah puluhan tahun.
“Hari ini 47 tahun sejak tahun 1979 Musabaqah Tilawatil Quran ke-31 ada di Provinsi Jawa Tengah,” papar Luthfi.
Luthfi menilai MTQ dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Kehadiran sejumlah kepala daerah dari berbagai provinsi dalam pembukaan, menurut dia, menunjukkan semangat kebersamaan yang dibawa melalui perhelatan tersebut.
“MTQ ini tidak hanya merupakan lomba untuk membaca dan menghafalkan Alquran, tetapi di dalamnya mempunyai makna sebagai pesta rakyat yang menyatukan masyarakat di lintas agama maupun di lintas latar belakang,” katanya. (sp/pr)







