Suarapena.com, KARANGANYAR – Sebanyak 34 kali water bombing dengan total 68.000 liter air belum sepenuhnya memadamkan karhutla di Gunung Lawu. Hingga Senin (26/10/2026), masih tersisa satu titik api. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta petugas dan relawan tetap siaga hingga kebakaran benar-benar padam.
Instruksi tersebut disampaikan Luthfi saat memimpin rapat penanggulangan karhutla di Gardu Pandang Sakura Hills, Senin (26/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga menyalurkan bantuan logistik bagi relawan dan masyarakat yang terlibat dalam pemadaman.
Luthfi menegaskan, seluruh pihak harus tetap berada di posko untuk memantau kondisi di lapangan. Kebutuhan logistik juga dipastikan terpenuhi agar para relawan dapat menjalankan tugas secara optimal.
“Saya minta teman-teman tetap siaga di posko-posko untuk memantau. Maka dari itu, cadangan bahan pokok saya bawa ke sini, agar tidak cepat bosan. Boleh ngemil, boleh bikin susu madu, mi instan,” ujarnya.
Bantuan yang disalurkan meliputi 105 kilogram beras, 24 kilogram gula pasir, 240 sachet kopi bubuk, 400 bungkus mi instan, 12 liter minyak goreng, 50 pak teh celup, 50 kaleng sarden, 48 botol kecap, 48 botol saus, 120 botol air mineral, serta berbagai jenis obat-obatan.
Luthfi mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Upaya pemadaman melalui udara juga akan dilanjutkan untuk menuntaskan titik api yang tersisa.
“Alhamdulillah, hari ini tinggal satu titik api. Sudah dilakukan koordinasi dengan BNPB dan akan diterjunkan water bombing satu sortie lagi. Penanganan karhutla di Gunung Lawu dilakukan secara komprehensif. Kita dari Pemprov Jateng mendukung agar tidak meninggalkan tempat, untuk dilakukan evaluasi agar kebakaran tidak terjadi lagi,” kata Luthfi.
Selain mendukung pemadaman, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan bantuan bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya mencegah kejadian serupa terulang. Evaluasi penanganan menjadi langkah penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, kebakaran di kawasan Gunung Lawu mulai terjadi pada Kamis (15/10/2026). Sejak saat itu, pemadaman dilakukan secara simultan melalui jalur darat dan udara.
Helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing atau pemadaman menggunakan bom air. Hingga Senin (26/10/2026), tercatat 34 kali upaya water bombing dengan total air yang dicurahkan mencapai 68.000 liter.
Upaya tersebut turut mengurangi jumlah titik api. Namun, pemantauan pada Senin pagi masih mendeteksi titik api di kawasan atas Gondosuli. Karena itu, seluruh unsur yang terlibat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan hingga kebakaran benar-benar teratasi.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Gondosuli, Sutoyo, mengapresiasi kehadiran Gubernur Jawa Tengah yang dinilai memberikan semangat bagi relawan dan masyarakat dalam menangani karhutla.
Menurut Sutoyo, dukungan peralatan dan sarana komunikasi sangat penting untuk menunjang kelancaran pemadaman. Ia berharap dukungan tersebut juga berlanjut pada tahap pemulihan kawasan hutan setelah api berhasil dipadamkan.
“Saya semakin mantap dengan upaya penanganan karhutla dan tidak kebingungan soal peralatan. Tadi saya minta kendaraan roda dua, peralatan, dan alat komunikasi. Harapannya, setelah api padam, hutan kami harus dihijaukan lagi,” katanya. (sp/pr)







