“Kalau di peternakan kami di Cipta Visi Farm, saat ini kita memiliki tujuh kandang dengan kapasitas 1.100 ekor. Dan di tempat kami beternak tanpa ngarit, atau beternak dengan sistem pakan kering. Pakan diambil dengan memanfaatkan limbah ketela, pohon jagung, kulit kacang hijau, dan lainnya. Untuk protein bisa pakai konsentrat,” jelasnya.
Menariknya, peternakan miliknya diintegritaskan dengan potensi lokal lainnya, seperti perkebunan. Jadi, limbah ternak dijadikan pupuk pohon kelapa, sehingga di desanya dikenal sebagai perkebunan kelapa organik.
“Dari perkebunan kelapa itu, kita bisa memproduksi gula semut. Perlu diketahui, akhir dari peternakan adalah awal pertanian, sedangkan akhir pertanian adalah awal peternakan. Itu yang harus dipegang,” paparnya.
Selain sistem yang modern, Rayndra juga membuka Sekolah Petani Milenial dan membuka permagangan, gratis bagi siapapun yang mau belajar.
“Semuanya gratis. Untuk Sekolah Petani Milenial ada 2.870 orang, dan magang 320 orang, mungkin akan terus bertambah,” imbuhnya.










