Suarapena.com, JAKARTA – Komisi V DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat dengan BMKG dan Basarnas pada Rabu (8/11/2023) di Gedung Nusantara DPR RI, Senayan, Jakarta.
Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, yang juga merupakan Politisi Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Salah satu agenda rapat adalah membahas perubahan iklim global dan antisipasi cuaca ekstrim yang berdampak pada berbagai sektor, terutama ketahanan pangan nasional.
Lasarus meminta BMKG semakin meningkatkan upaya preventif terhadap efek dari perubahan iklim, khususnya terhadap siklus tanam yang menentukan hasil panen.
“Tahun 2023 ini menjadi tahun yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, terutama suhu panas terik di siang hari. Jadi memang sudah sangat terasa sekali perubahan iklim ini yang kita rasakan. Tentu ini berdampak di seluruh dunia, di mana-mana terjadi kekeringan dan seterusnya,” ujar Lasarus.
Ia menambahkan, di Indonesia, telah banyak terjadi sawah yang mengalami gagal panen akibat perubahan iklim.
“Nah ini satu-satunya jalan bagaimana mengantisipasi itu. Sehingga, dampaknya bisa kita minimalisir terutama terhadap ketahanan pangan. Sehingga ini saya rasa penting untuk menjadi perhatian dari BMKG dan menghindarkan kita juga dari kekurangan bahan pangan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Dwikorita menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi perubahan iklim, baik di tingkat nasional maupun masyarakat.
Di tingkat nasional, BMKG telah menyampaikan informasi dan rekomendasi kepada Presiden serta sudah dibahas antar Kementerian. Di Bappenas juga telah ditindaklanjuti untuk menyusun rencana pembangunan jangka panjang yang nantinya akan ditetapkan dengan Instruksi Presiden (Inpres).
Sedangkan di tingkat masyarakat, BMKG telah cukup gencar melakukan sosialisasi, melalui media sosial, sekolah-sekolah, masyarakat, dan juga Sekolah Lapang Iklim (SLI).
“Jadi secara nasional itu disiapkan. Kemudian yang untuk masyarakat kami sebetulnya juga cukup gencar melakukan sosialisasi, melalui rapid volunteer misalnya melalui sosial media, kemudian ke sekolah-sekolah ke masyarakat, dan juga disampirkan dalam SLI itu, meskipun SLI itu dimasukkan untuk antisipasi perubahan iklim,” papar Dwikorita. (r5/pun/rdn)










