Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyoroti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap aktivitas nelayan di sejumlah daerah. Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya memukul ekonomi nelayan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.
Daniel mengatakan, tingginya harga BBM membuat banyak nelayan kesulitan menutupi biaya operasional untuk melaut. Akibatnya, sebagian nelayan memilih menghentikan aktivitas penangkapan ikan.
“Harga BBM untuk operasional melaut yang naik sangat tinggi berdampak pada banyak hal. Bukan hanya nelayan kesulitan melaut, tapi juga bagaimana produksi pangan di sektor perikanan ikut terdampak,” kata Daniel dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Pati, tempat ribuan nelayan dilaporkan tidak melaut karena tidak mampu membeli solar. Harga solar yang sebelumnya sekitar Rp 17.000 per liter kini disebut mencapai Rp 30.000 per liter.
Menurut Daniel, lonjakan harga BBM berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional kapal nelayan. Kondisi tersebut juga memengaruhi sektor hilir, termasuk aktivitas pelelangan ikan yang mulai terhenti akibat minimnya hasil tangkapan.
“Dampaknya sangat nyata. Nelayan menjerit, masyarakat umum kesulitan memperoleh ikan dan hasil laut yang mereka butuhkan. Akhirnya kemiskinan pun bertambah,” ujar dia.
Politikus Fraksi PKB itu menilai persoalan BBM bagi nelayan seharusnya dipandang sebagai bagian dari sistem produksi pangan nasional. Sebab, bagi nelayan kecil dan menengah, BBM menjadi faktor utama untuk menentukan apakah mereka dapat melaut atau tidak.
“Padahal, bagi nelayan kecil dan menengah, BBM bukan variabel fleksibel, tetapi faktor penentu apakah mereka bisa melaut atau tidak,” kata Daniel.
Ia mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, dampaknya akan semakin luas, mulai dari menurunnya pasokan ikan di pasar hingga kenaikan harga pangan berbasis hasil laut.
“Dalam konteks ini, isu BBM tidak lagi berdiri sebagai isu energi semata, tetapi telah menjadi isu ketahanan pangan,” tutur Daniel. (r5/rdn)










