Suarapena.com, BANDUNG – Suara roda sepatu beradu dengan aspal terdengar di sejumlah ruas jalan Kota Bandung. Para pesepatu roda melaju beriringan, sebagian masih tampak berhati-hati, sementara yang lain sudah cukup lincah bermanuver.
Menariknya, mereka bukan hanya anak-anak.
Di antara para pengguna inline skate itu, ada mahasiswa hingga ibu rumah tangga yang sengaja meluangkan waktu untuk berolahraga sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Mereka tergabung dalam All Star Inline Skate Community, komunitas yang berdiri sejak 2021 dan menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal olahraga sepatu roda, termasuk mereka yang benar-benar masih pemula.
Founder All Star Inline Skate Community, Kresna, mengatakan komunitas tersebut awalnya dibentuk sebagai tempat berkumpul dan belajar bersama bagi masyarakat yang ingin bisa bermain inline skate.
“Wadah buat orang-orang yang pengin belajar sepatu roda dari awal. Kalau yang dewasa biasanya setiap Jumat. Ada ibu rumah tangga, anak kuliah, pokoknya semuanya campur buat belajar inline skate bareng-bareng,” kata Kresna, Kamis (17/9/2026).
Bagi anggota yang baru pertama kali mengenakan sepatu roda, jangan berharap langsung diajak meluncur jauh.
Latihan dimulai dari kemampuan paling dasar. Peserta terlebih dahulu diajarkan cara jatuh dan bangun dengan aman, kemudian belajar meluncur, berbelok, hingga mengerem.
“Yang baru itu belajar dasar atau basic. Jadi belajar jatuh bangun, meluncur, belok sama ngerem,” ujar Kresna.
Setelah kemampuan dasar mulai dikuasai, anggota dapat mengikuti kegiatan rolling bersama.
Rolling menjadi salah satu kegiatan yang rutin dilakukan komunitas tersebut. Para anggota menyusuri sejumlah ruas jalan di Bandung sambil menikmati suasana kota.
Salah satu rute yang biasa ditempuh yakni kawasan Dago, kemudian turun menuju sejumlah titik di pusat kota hingga Braga.
Menurut Kresna, rolling lebih nyaman dilakukan pada malam hari karena kondisi lalu lintas dan cuaca dianggap lebih mendukung.
“Paling kita jalur yang biasa tuh ke Dago sampai Simpang, turun lagi ke bawah, terus ke Vanda, ke Braga muter. Titiknya biasanya ngumpul di Saparua,” katanya.
Bagi Rea, inline skate menjadi pengalaman baru yang awalnya tidak mudah.
Ibu rumah tangga yang baru sekitar dua bulan bergabung dengan All Star Inline Skate Community itu mengaku ketika pertama kali datang, kemampuannya masih sebatas meluncur.
Teknik lainnya belum ia kuasai.
Namun, setelah rutin berlatih bersama anggota komunitas, kemampuan Rea perlahan berkembang.
“Dari bisa meluncur aja, tapi sisanya enggak bisa. Pas sudah gabung sini alhamdulillah ada kemajuan,” ujar Rea.
Ia mengaku salah satu hal yang membuatnya betah adalah suasana kekeluargaan di dalam komunitas.
Saat melakukan rolling, anggota yang sudah lebih mahir juga tidak segan membantu peserta pemula.
“All Star itu kekeluargaan banget. Kalau ada rolling ke jalan, mereka saling bantu. Untuk yang beginner, mereka saling perhatian, enggak pilih-pilih, langsung semua dibantuin,” katanya.
Bagi Rea, bermain inline skate bukan sekadar belajar olahraga baru. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk keluar sejenak dari rutinitas.
“Senang banget, soalnya ada aktivitas fisik di luar kegiatan rutin tiap hari. Di luar pekerjaan kita perlu refreshing. Nah, itu refreshing banget,” tuturnya.
All Star Inline Skate Community juga tidak hanya menyediakan kegiatan untuk orang dewasa.
Komunitas ini memiliki kelas khusus anak-anak yang digelar secara terjadwal dan berbayar, di antaranya di Lucky Square dan Trans Studio Mall (TSM).
Program tersebut ditujukan bagi anak-anak yang ingin belajar inline skate secara lebih serius. Selain kemampuan dasar, pembinaan juga diarahkan bagi mereka yang ingin menekuni olahraga tersebut hingga berprestasi.
Sementara itu, kegiatan komunitas untuk anggota dewasa dapat diikuti secara gratis.
Kresna mengatakan siapa pun yang memiliki ketertarikan terhadap inline skate boleh bergabung. Tidak harus sudah mahir, bahkan pemula yang belum pernah menggunakan sepatu roda pun dipersilakan datang.
“Siapa pun yang suka main sepatu roda bisa datang,” ucapnya.
Ia pun mengajak warga Bandung yang penasaran mencoba inline skate untuk tidak ragu memulai dari nol.
“Ayo, buat warga Bandung yang penasaran mau belajar sepatu roda dari awal, kita temenin, kita ajarin sampai bisa gogorolongan di jalan raya. Boleh gabung sama All Star Inline Skate,” kata Kresna.
Bagi sebagian orang, sepatu roda mungkin hanya permainan masa kecil. Namun di Bandung, roda-roda kecil itu kini menjadi cara baru untuk tetap aktif, bertemu orang-orang baru, sekaligus mencari jeda dari kesibukan sehari-hari.
Dan bagi mereka yang tergabung di All Star, belajar inline skate tak harus dimulai dengan kemampuan hebat.
Cukup berani memakai sepatu roda dan meluncur. (sp/ky)







