Suarapena.com, MAGELANG – Deretan Volkswagen (VW) Safari melintas di jalan-jalan desa kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mobil-mobil klasik itu bukan hanya menjadi tontonan bagi warga, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kawasan Borobudur.
Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Magelang mendorong kegiatan komunitas VW Safari menjadi event wisata tahunan dan masuk dalam kalender wisata Kabupaten Magelang.
Rencana itu disampaikan Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat menghadiri Parade VW Safari Borobudur bertajuk “Classic Drive, Timeless Culture” di Lapangan Tuksongo, Borobudur, baru-baru ini.
Menurut Grengseng, VW Safari merupakan contoh bagaimana kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi atraksi wisata sekaligus membuka peluang ekonomi.
“Yang kita bangun itu ekosistem wisata dari hulu sampai hilir. Hari ini VW adalah salah satu destinasi wisata baru yang muncul dari kreativitas teman-teman dari Borobudur,” ujar Grengseng, Jumat (28/8/2026).
Komunitas VW Safari di Magelang menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.
Ketika mulai berdiri pada Juli 2017, jumlah VW Safari yang tergabung masih kurang dari 10 unit. Kini, jumlahnya telah berkembang menjadi lebih dari 400 unit.
Mobil-mobil tersebut kemudian tidak hanya digunakan untuk kegiatan komunitas, tetapi juga dimanfaatkan sebagai salah satu moda transportasi wisata di kawasan Borobudur dan sekitarnya.
Bagi Grengseng, perpaduan antara kendaraan klasik, budaya lokal, dan lanskap pedesaan Borobudur menjadi potensi wisata yang menarik.
Potensi itu, kata dia, perlu dikembangkan bersama agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh komunitas, tetapi juga masyarakat luas.
Karena itu, Pemkab Magelang membuka ruang kolaborasi dengan komunitas VW, termasuk membahas operasional dan tarif layanan VW Safari.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat layanan wisata menggunakan VW berjalan tertib, nyaman, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Pemkab Magelang juga tengah merumuskan Peraturan Daerah tentang transportasi pariwisata sebagai payung hukum untuk mengatur berbagai aspek transportasi wisata.
“Mari kita duduk bersama agar bisa membangun harmoni di masyarakat, di dunia pariwisata, sehingga terwujud pariwisata yang memberikan nilai tambah dan kenaikan kesejahteraan bagi masyarakat Borobudur,” kata Grengseng.
Ketua Komunitas VW sekaligus Ketua Panitia Parade VW Safari Borobudur, Prana Aji, mengatakan parade tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menyatukan komunitas VW di kawasan Borobudur.
Menurut dia, terdapat sekitar 25 komunitas VW yang selama ini berjalan secara terpisah.
Pada pelaksanaan perdana parade, panitia mencatat sekitar 400 unit VW terdaftar. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 unit mengikuti parade dengan menempuh rute sepanjang 10 hingga 12 kilometer melewati desa-desa di sekitar Borobudur.
“Tujuannya untuk mempersatukan komunitas yang ada di Borobudur, sehingga kita bersatu, padu, kompak dalam melayani wisatawan,” ujar Prana.
Parade tersebut juga melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan, mulai dari ASN, Forkopimcam, paguyuban pensiunan, komunitas VW dari berbagai daerah, hingga siswa dari 12 sekolah dasar di sekitar Borobudur.
Prana berharap kegiatan perdana tersebut tidak berhenti sebagai agenda komunitas. Ia ingin Parade VW Safari Borobudur berkembang menjadi event berskala regional, bahkan nasional.
Dalam jangka panjang, komunitas VW Borobudur menargetkan parade tersebut menjadi agenda tahunan dan masuk dalam kalender wisata Kabupaten Magelang.
Bagi Pemkab Magelang, rencana itu sejalan dengan upaya membangun pariwisata yang tumbuh dari masyarakat.
Sebab, pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga bagaimana komunitas, budaya, pelaku usaha, dan masyarakat sekitar dapat bergerak bersama.
Dengan semakin berkembangnya komunitas VW Safari, kendaraan klasik yang selama ini identik dengan nostalgia itu kini memiliki peran baru di Borobudur.
Dari sekadar kendaraan klasik, VW Safari perlahan diarahkan menjadi bagian dari wajah pariwisata Borobudur sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. (sp/pr)







