Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus menyusul ditemukannya puluhan kasus di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, tercatat 23 kasus Hantavirus dengan tiga kematian dalam kurun tiga tahun terakhir yang tersebar di sembilan provinsi.
“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” kata Netty dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Netty menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus melalui urine, kotoran, air liur, maupun debu yang terkontaminasi dan terhirup manusia.
Menurut dia, masyarakat perlu memahami gejala awal penyakit tersebut karena sering kali menyerupai flu biasa. Gejala Hantavirus di antaranya demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, hingga sesak napas.
“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” ujar dia.
Ia mengatakan, penyebaran Hantavirus berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan dan tingginya paparan tikus yang terinfeksi.
Menurut Netty, lingkungan padat penduduk, pengelolaan sampah yang buruk, serta sanitasi yang belum optimal dapat meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.
“Ini menjadi alarm penting bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan. Pencegahan harus dimulai dari pengendalian faktor risiko di masyarakat,” kata dia.
Netty juga meminta Kementerian Kesehatan memperkuat sistem surveillance epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan, terutama di daerah yang telah teridentifikasi memiliki kasus Hantavirus.
Selain itu, tenaga kesehatan dinilai perlu mendapat penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat dan melakukan diagnosis dini.
“Tenaga kesehatan perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat, melakukan diagnosis dini, serta mencegah keterlambatan penanganan,” ujar Netty.
Ia turut mengingatkan pentingnya komunikasi risiko kepada masyarakat agar publik tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
“Masyarakat perlu memahami bahwa penularan dominan berasal dari tikus dan lingkungan yang terkontaminasi, sehingga langkah menjaga kebersihan rumah dan lingkungan menjadi sangat penting,” tuturnya.
Netty mengimbau masyarakat rutin membersihkan rumah dan tempat penyimpanan makanan, menggunakan pelindung saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah kontak dengan lingkungan yang diduga terkontaminasi.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah untuk pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi, dan pengelolaan sampah.
“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” kata Netty. (r5/aha)










