Suarapena.com, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, Stasiun Jakarta Kota berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia. Lebih dari 150 tahun, denyut transportasi massal ini terus bertransformasi dari sekadar penghubung kota menjadi ikon mobilitas dan budaya urban.
Semua berawal dari tahun 1871, ketika jalur kereta Batavia – Buitenzorg (sekarang Jakarta – Bogor) diresmikan melalui Stasiun Batavia Noord. Namun, efisiensi menjadi tantangan karena letaknya yang hanya 200 meter dari Batavia Zuid (kini Stasiun Jakarta Kota). Di bawah pengelolaan Staats Spoorwegen (SS) pada 1913, lahirlah visi membangun stasiun sentral baru yang lebih terintegrasi.
Visi itu terwujud pada 8 Oktober 1929 dengan peresmian Stasiun Jakarta Kota—bangunan megah bergaya Art Deco karya arsitek kenamaan A.W. Ghijsels. Sejak saat itu, Batavia Noord resmi ditutup, namun sejarahnya tetap hidup dalam denyut rel yang masih beroperasi hingga hari ini.
Hampir seabad kemudian, Stasiun Jakarta Kota—yang akrab disapa “Beos” (Batavia en Omstreken Spoorwegen)—tak hanya bertahan, tapi justru semakin vital. Dengan 374 perjalanan KRL Commuter Line setiap harinya, stasiun ini melayani rata-rata 671 ribu pelanggan per bulan, menjadikannya simpul strategis transportasi di Jabodetabek.
“Stasiun Jakarta Kota berperan penting bukan hanya untuk mobilitas harian, tapi juga sebagai pintu gerbang wisata, perdagangan, dan kegiatan ekonomi. Letaknya yang strategis di kawasan Kota Tua membuatnya istimewa,” ujar Anne Purba, Vice President Public Relations KAI dalam keterangannya, Minggu (21/9/2025).
Meski sarat nilai historis, wajah Stasiun Jakarta Kota terus berbenah. Fasilitas kekinian hadir untuk memenuhi ekspektasi masyarakat urban: eskalator, lift, jalur landai, ruang menyusui, toilet ramah disabilitas, ruang tunggu ber-AC, hingga layar informasi digital yang up-to-date. Tak hanya itu, CCTV dan petugas siaga 24 jam memastikan keamanan pelanggan setiap waktu.
Stasiun ini juga menjadi contoh integrasi transportasi modern. Mulai dari TransJakarta, mikrotrans, bajaj, hingga layanan transportasi daring—semua terkoneksi mulus, membuat mobilitas di pusat kota semakin mudah dan efisien.
Lebih dari sekadar stasiun, Jakarta Kota kini menjadi bagian penting dari proyek revitalisasi kawasan Kota Tua, yang diinisiasi oleh KAI bersama pemerintah. Misinya jelas: menjaga nilai sejarah sambil menyulapnya menjadi zona urban yang hijau, ramah pejalan kaki, dan modern.
Tak hanya dari sisi fisik, inovasi juga merambah layanan digital. Melalui aplikasi Access by KAI, pengguna bisa membeli tiket, mengecek jadwal secara real-time, memilih kursi, hingga menikmati berbagai promo menarik. Semua dirancang untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang praktis, cepat, dan nyaman.
“Stasiun Jakarta Kota mengingatkan kita bahwa sejarah dan masa depan bisa bertemu dalam satu perjalanan,” pungkas Anne. (sp/pr)










