Scroll untuk baca artikel

Sejarah

Marhaen di Cipagalo, Jejak Petani Sederhana yang Menginspirasi Bung Karno

×

Marhaen di Cipagalo, Jejak Petani Sederhana yang Menginspirasi Bung Karno

Sebarkan artikel ini
Menguak jejak Marhaen, petani, dan Bung Karno di Cipagalo, Bandung.
Menguak jejak Marhaen, petani, dan Bung Karno di Cipagalo, Bandung.

Suarapena.com, BANDUNG – Di sebuah permukiman padat di kawasan selatan Kota Bandung, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan pemikiran bangsa. Di Cipagalo, Jalan Batununggal RT 04/03, Kelurahan Mengger, Bandung Kidul, terdapat makam Ki Marhaen, sosok petani sederhana yang namanya diabadikan Presiden Soekarno dalam konsep “Marhaenisme”.

Ki Marhaen, yang akrab disapa warga setempat sebagai Ki Aen, merupakan petani asal Bandung yang ditemui Soekarno pada masa pergerakan nasional. Pertemuan yang diyakini berlangsung di kawasan Sawah Cibintiu—kini Jalan Mohammad Toha—menjadi salah satu titik awal terbentuknya gagasan tentang kemandirian rakyat kecil yang kemudian diangkat Bung Karno dalam perjuangannya.

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

Ketika ditemui di lokasi makam, dua keturunan Ki Marhaen dari generasi keempat dan kelima, Akil dan Ait, menceritakan kembali silsilah keluarga sang tokoh.

Berita Terkait:  Penjara Banceuy: Jejak Perjuangan Soekarno Melawan Penjajah

“Ki Marhaen punya satu anak, tujuh cucu, dan kini tersisa tiga cucu yang masih hidup,” ujar Akil.
Mereka mengatakan bahwa makam leluhur mereka kerap diziarahi warga dari berbagai daerah. Banyak yang datang untuk mendoakan sekaligus mengenang peran Ki Marhaen dalam sejarah pemikiran bangsa.

Kisah tentang Ki Marhaen juga disampaikan oleh Kusnadi, tokoh masyarakat sekaligus Ketua RW 03 Kelurahan Mengger. Ia mendapatkan cerita tersebut dari keluarganya, terutama mertuanya yang sempat hidup pada masa Ki Marhaen masih ada.

“Setelah Indonesia merdeka, ada seseorang yang datang mencari Ki Marhaen ke sawahnya di Cibintiu. Namun saat itu Ki Marhaen sudah wafat. Pencarian itu akhirnya mengarah ke Cipagalo, tempat keluarga dan makamnya berada sekarang,” tutur Kusnadi.

Berita Terkait:  TAP MPRS 33/1967 Resmi Dicabut, Nama Baik Soekarno Dipulihkan

Menurut Kusnadi, figur Ki Marhaen merupakan simbol perjuangan rakyat kecil serta penguatan sektor pangan, terutama pertanian, sebagaimana yang sering disampaikan Bung Karno. Ia berharap situs ini tetap dijaga dan dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sejarah.

“Jika untuk tujuan sejarah, saya bangga karena di lingkungan Cipagalo ini ada situs yang menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya.

Makam Ki Marhaen kini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh, melainkan pula pengingat bahwa kekuatan bangsa bertumpu pada rakyat kecil yang bekerja keras, jujur, dan mandiri. Nilai-nilai itulah yang kemudian diangkat Bung Karno menjadi bagian dari fondasi perjuangannya.

Pemerintah Kota Bandung bersama masyarakat setempat terus berupaya merawat keberadaan situs ini agar tetap menjadi sumber pembelajaran dan inspirasi bagi generasi mendatang. (sp/rer)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca