Suarapena.com, BANTUL – Museum Pleret di kawasan bersejarah Pleret, Bantul, kini hadir sebagai ruang edukasi yang menyajikan perjalanan panjang sejarah Yogyakarta. Dengan penataan modern dan narasi yang runtut, museum ini mengajak pengunjung menelusuri jejak peradaban mulai dari masa prasejarah, kejayaan Mataram Islam, hingga era kolonial.
Museum yang dikelola Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ini awalnya merupakan Museum Sejarah Purbakala Pleret, berfungsi sebagai tempat penampungan temuan Benda Cagar Budaya dari Bantul. Pada 2014, museum resmi dibuka untuk umum setelah koleksinya bertambah dan memiliki nilai edukatif yang lebih tinggi.
“Awalnya museum ini hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan temuan cagar budaya. Kini, Museum Pleret berkembang menjadi sarana pembelajaran sejarah sekaligus rekreasi yang ramah bagi masyarakat,” kata Edukator Museum Pleret, Ayu Oktafi D., yang akrab disapa Afi, Sabtu (24/1/2026).
Koleksi museum menampilkan beragam artefak yang mewakili rentang sejarah panjang Yogyakarta. Mulai dari alat-alat batu masa prasejarah, peninggalan Hindu-Buddha, artefak Kerajaan Mataram Islam, hingga benda-benda dari era kolonial. Penyajian koleksi disusun secara tematis dan mudah dipahami berbagai kalangan usia.
Selain koleksi, Museum Pleret juga menawarkan pengalaman interaktif. Ruang interaktif khusus anak-anak menyediakan kegiatan kreatif seperti mewarnai dan permainan tradisional, termasuk dakon dan yoyo. Penataan ruang pamer menggunakan konsep modern, dengan pencahayaan nyaman dan alur narasi yang jelas.
Keunikan museum diperkuat oleh keberadaan Situs Cagar Budaya Sumur Gumuling, sumber air Kedaton Keraton Pleret abad ke-17, yang menjadi bukti sejarah Mataram Islam di kawasan ini. Di sekitarnya juga terdapat sejumlah situs penting lain, termasuk Situs Kerta.
Secara tematik, museum terbagi dalam tiga ruang utama. Ruang Gunung Kelir menampilkan koleksi prasejarah dan Hindu-Buddha, Ruang Kerta menampilkan artefak Mataram Islam hingga kolonial, dan ruang interaktif memberikan pengalaman belajar langsung bagi pengunjung.
Koleksi unggulan museum antara lain umpak atau landasan tiang bangunan, keris Sabuk Inten, arca, bagian candi, bata Keraton Mataram, hingga benda eks pabrik gula dari masa kolonial.
Untuk menambah pengalaman edukatif, museum menghadirkan program Gowes Situs (Gesit), kegiatan bersepeda menyusuri kawasan cagar budaya yang digelar gratis sebulan sekali. Program ini mengajak pengunjung mengenal situs sejarah dengan cara sehat dan santai.
“Dengan berkunjung ke Museum Pleret, masyarakat tidak hanya belajar sejarah melalui koleksi, tetapi juga dapat langsung menelusuri situs bersejarah di kawasan Kerta–Pleret,” ujar Afi.
Museum Pleret kini menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi yang menghubungkan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan akar sejarah Yogyakarta. Dari Pleret, sejarah tidak hanya disimpan, tetapi terus dihidupkan dan diwariskan. (sp/fn)










