Untuk memperlancar pencarian dana, ada beberapa hal yang menjadi poin utama, yaitu membangun reputasi dan kepercayaan sebagai seorang profesional di bidang politik.
“Dalam hal pengelolaan politik, pentingnya membangun reputasi, menyusun laporan kinerja, dan memiliki ide yang kuat sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan finansial dan moril dari publik,” pungkas Michael.
Tak lupa ia menekankan kepada para caleg agar menjalankan ketiga hal ini agar memperoleh kemenangan di pemilu.
“Ketika fundraising harus tahu produk yang akan dijual, bangun narasi, serta pembuatan laporan pertanggungjawaban terhadap dana yang telah dipakai. Hal ini akan meningkatkan trust dari para donatur, serta gunakan sosmed untuk dapil yang berada di kawasan urban,” tutup Michael.
Sesi 2
Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Titi Anggraini, Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, yang menyampaikan materi tentang kapasitas kepemiluan. Ia menekankan bahwa setiap caleg harus mengerti tentang regulasi kepemiluan agar bisa melindungi diri.
“Caleg harus memahami alur-alur bantuan hukum untuk melindungi diri dari kecurangan,” ungkap Titi.
Titi Anggraini menegaskan bahwa isu kepemiluan di Indonesia semakin rumit dan kompleks, terutama terkait jual beli suara. Dia menekankan pentingnya memastikan bahwa suara yang diberikan oleh pemilih dapat dihitung dan dikonversi menjadi kursi yang representatif.
Dalam sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta seminar. Salah satunya adalah terkait dengan perpindahan suara dari satu partai ke partai lain. Titi Anggraini menjelaskan bahwa proses ini terjadi dalam realitas di lapangan dan ada mekanisme hukum yang mengaturnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem pemilu di Indonesia, ada kemungkinan suara terbanyak di suatu dapil tidak mendapatkan kursi, seperti kasus yang terjadi pada Mulan Jameela. Hal ini terjadi karena ada perselisihan internal partai yang harus diselesaikan di Mahkamah Konstitusi.
Dalam menyikapi isu-isu kepemiluan ini, Titi Anggraini mengajak para caleg untuk membangun politik yang lebih sehat, melalui representasi perempuan yang lebih baik dan pendekatan yang inklusif. Ia juga menekankan pentingnya partisipasi pemuda dan kelompok-kelompok yang masih rentan dalam proses pemilu.
“Pemilu harus diisi oleh orang-orang muda, tetap berjuang, risiko harus diambil tidak ada yg instan. Merebut peluang memerlukan perencanaan. Kecenderungan kita kompetensi, mari bangun aliansi,” tutupnya pada sesi ini.










